Pada bagian sebelumnya, kita diingatkan untuk tidak menghabiskan waktu dalam pertengkaran dan perdebatan yang sia-sia. Sekarang, ketika Paulus menutup suratnya kepada Titus, ia mengarahkan perhatian jemaat kepada sesuatu yang jauh lebih penting: gunakan hidup untuk melakukan pekerjaan yang baik dan menjadi berkat bagi orang lain.
“Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.”
Titus 3:14
Menariknya, Paulus tidak menutup surat ini dengan sebuah teori yang rumit. Ia berbicara tentang hal-hal yang sangat praktis. Ia meminta Titus membantu rekan-rekan pelayanan yang akan datang, dan meminta jemaat belajar memenuhi kebutuhan yang penting. Kemudian ia memberikan alasan yang sederhana tetapi kuat: “supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.”
Tuhan memberikan kita waktu, kemampuan, kesempatan, dan sumber daya untuk menjadi berkat. Kita mungkin tidak dapat melakukan sesuatu yang besar di mata banyak orang, tetapi kita selalu dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi seseorang.
Jangan hanya hidup, tetapi berbuahlah.
Paulus bahkan menggunakan kata “belajar.” Ini berarti melakukan kebaikan adalah sesuatu yang perlu terus kita pelajari. Kita tidak langsung menjadi orang yang selalu peka terhadap kebutuhan orang lain. Kita perlu belajar memperhatikan, belajar berbagi, belajar melayani, dan belajar menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan.
Kita menghindari pertengkaran yang sia-sia, tetapi bukan berarti hidup kita menjadi pasif. Sebaliknya, energi yang ada pada kita jangan dihabiskan hanya untuk berdebat, tetapi gunakan untuk melayani dan melakukan kebaikan.
Pada akhirnya, yang Tuhan rindukan bukanlah kehidupan yang sekadar terlihat sibuk, tetapi kehidupan yang berbuah.
Marilah kita menjalani hidup dengan pertanyaan sederhana: “Apa yang dapat saya lakukan hari ini agar hidup saya menjadi berkat bagi orang lain?”
Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan memberkati kita semua. Amin