“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”
Roma 6:1-2
Setelah menjelaskan besarnya kasih karunia dalam Roma 5, Paulus mengantisipasi sebuah pertanyaan: Kalau kasih karunia Tuhan begitu besar, apakah kita boleh terus hidup dalam dosa?
Jawabannya sangat tegas: “Sekali-kali tidak!”
Kasih karunia bukan alasan untuk mempertahankan dosa. Justru karena kita telah menerima kasih karunia Tuhan, seharusnya ada perubahan dalam cara kita hidup.
“Berbuat dosa hanya supaya Allah mempunyai kesempatan untuk mengampuni, berarti mencobai Dia.”
The Signs of the Times, August 28, 1884, par. 6
Paulus berkata bahwa kita telah “mati terhadap dosa.” Ini bukan berarti kita tidak pernah lagi menghadapi godaan atau pergumulan. Maksudnya, dosa tidak lagi menjadi sesuatu yang ingin kita pelihara. Kita tidak lagi menganggap dosa sebagai jalan hidup yang seharusnya terus kita ikuti.
Ada perbedaan antara jatuh ke dalam dosa dan memilih untuk terus hidup di dalam dosa. Orang yang datang kepada Kristus mungkin masih jatuh, tetapi hatinya tidak lagi nyaman dengan dosa. Ia ingin bangkit, bertobat, dan kembali kepada Tuhan.
Karena itu, jangan pernah menggunakan kasih karunia sebagai alasan untuk berkata, “Tuhan pasti mengampuni, jadi tidak masalah kalau saya terus melakukan dosa ini.”
Tidak. Kasih karunia mengampuni kita, tetapi kasih karunia juga mengubah arah hidup kita.
Ketika kita sungguh memahami pengorbanan Kristus, kita tidak ingin terus kembali kepada kehidupan lama. Kita mulai belajar membenci dosa yang dahulu kita sukai dan merindukan kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan.
Kasih karunia bukan izin untuk tetap hidup dalam dosa; kasih karunia memanggil kita untuk meninggalkan dosa dan hidup bagi Tuhan.
Kiranya setiap hari kita semakin menyadari kasih karunia Tuhan dan membiarkan kasih itu mengubah kehidupan kita.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin