Jika pada bagian sebelumnya kita melihat bahwa Abraham dibenarkan karena iman, sekarang Paulus melanjutkan dengan menunjukkan kapan iman itu diperhitungkan sebagai kebenaran.
Roma 4:10 berkata, “Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.”
Ini penting. Abraham menerima tanda sunat setelah ia percaya kepada Allah. Jadi, tanda itu bukanlah dasar pembenarannya. Sunat hanya menjadi tanda atau meterai dari kebenaran yang sudah ia terima melalui iman.
Dengan demikian, Paulus menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak ditentukan terutama oleh tanda-tanda lahiriah, identitas, atau sesuatu yang dapat kita banggakan. Yang Tuhan lihat adalah iman yang sungguh-sungguh kepada-Nya.
Roma 4:11 menyebut sunat sebagai “tanda” dan “meterai kebenaran berdasarkan iman.” Artinya, kehidupan yang terlihat dari luar seharusnya menjadi kesaksian dari apa yang sudah terjadi di dalam hati.
“Sunat diberikan sebagai tanda kebenaran. Kebenaran ini diperoleh melalui iman.”
From Eden to Eden 38.4
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apa tanda bahwa saya orang percaya?” tetapi, “Apakah iman itu benar-benar hidup di dalam hati saya?”
Jangan sampai kehidupan rohani kita hanya terlihat baik dari luar, tetapi tidak memiliki hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan.
Iman yang sejati tidak berhenti pada tanda lahiriah, tetapi menghasilkan kehidupan yang diubahkan.
Kiranya iman kita kepada Tuhan bukan hanya terlihat dari apa yang kita lakukan di luar, tetapi sungguh berakar di dalam hati dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin