Selama tiga hari pertama di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya diterima dengan ramah oleh Publius, seorang pembesar di pulau itu. Di tengah masa tinggal mereka, ayah Publius sedang menderita demam dan disentri.

Sesudah peristiwa itu, banyak orang sakit di pulau itu datang kepada Paulus, dan mereka pun disembuhkan.

Perhatikan keadaan Paulus saat itu.

Ia bukan seorang tamu kehormatan atau pengkhotbah yang sedang mengadakan perjalanan misi. Ia masih berstatus sebagai seorang tahanan yang sedang dikawal menuju Roma. Namun keadaan itu tidak menghalangi Paulus untuk menjadi berkat.

Di mana pun Tuhan menempatkannya, di situlah Paulus melayani.

Ia tidak berkata, “Nanti kalau saya bebas, baru saya melayani.”
Ia tidak menunggu keadaan menjadi lebih baik.
Ia memakai kesempatan yang ada untuk menyatakan kasih dan kuasa Tuhan.

Pelajaran ini juga menjadi pelajaran bagi kita.

Kiranya Tuhan menolong kita memiliki hati seperti Paulus, yang selalu siap melayani dan menjadi saluran kasih-Nya, apa pun keadaan dan di mana pun kita berada.

Jadilah berkat di mana pun Tuhan menempatkanmu.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: