Setelah tiba di Pulau Malta, Paulus bukan hanya berdiam diri menikmati kehangatan api yang telah disediakan penduduk setempat.
Alkitab mencatat:
“Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya”
Kisah Para Rasul 28:3
Perhatikan apa yang sedang dilakukan Paulus.
Meskipun ia adalah seorang tahanan, baru saja selamat dari kapal karam, dan tentu kelelahan setelah menghadapi badai yang panjang, Paulus tetap mengambil bagian dalam pekerjaan yang sederhana. Ia tidak merasa dirinya lebih penting daripada orang lain. Ia ikut mengumpulkan kayu bakar untuk menghangatkan semua orang.
Namun justru ketika sedang melakukan hal yang baik, ia mengalami serangan.
Bukankah hal seperti ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita?
Kadang-kadang kita berpikir bahwa jika kita hidup setia kepada Tuhan, semuanya akan berjalan lancar. Namun kenyataannya, tantangan justru dapat datang ketika kita sedang berusaha melakukan yang benar.
Serangan itu tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Paulus tidak digigit ular karena ia berada di luar kehendak Tuhan. Sebaliknya, peristiwa itu terjadi ketika ia sedang melayani.
Karena itu, jangan berkecil hati ketika kesulitan datang di tengah-tengah kesetiaan kita. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena pernah terluka. Jangan berhenti melayani hanya karena pernah dikecewakan.
Hari ini, mungkin kita sedang menghadapi tantangan setelah berusaha melakukan yang benar, tetapi tetaplah setia dan teruslah melayani.
Kiranya kita memiliki hati seperti Paulus, yang tetap bersedia melayani dengan rendah hati, apa pun keadaan yang sedang dihadapi.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin