Ketika Paulus melanjutkan perjalanannya menuju Yerusalem, ia mengetahui bahwa penderitaan sedang menantinya.
Di setiap kota yang ia kunjungi, Roh Kudus mengingatkan bahwa penjara dan kesukaran ada di depan. Bahkan di Tirus, murid-murid berulang kali memohon agar Paulus tidak melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.
Kemudian di Kaisarea, seorang nabi bernama Agabus mengambil ikat pinggang Paulus dan menubuatkan apa yang akan terjadi.
“… ‘Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain.’”
Kisah Para Rasul 21:11
Mendengar hal itu, orang-orang yang mengasihi Paulus menangis dan memohon agar ia tidak pergi.
“Tetapi Paulus menjawab: ‘Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.’”
Kisah Para Rasul 21:13
Paulus tidak mencari penderitaan. Ia juga tidak meremehkan bahaya yang ada di depannya. Namun ia telah memutuskan bahwa melakukan kehendak Tuhan lebih penting daripada mencari jalan yang paling aman atau paling nyaman.
Iman tidak selalu membawa kita ke jalan yang mudah. Terkadang iman justru menuntun kita untuk tetap melangkah ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan.
Dan pada akhirnya, murid-murid yang bersama Paulus berkata:
“… ‘Jadilah kehendak Tuhan!’”
Kisah Para Rasul 21:14
Inilah sikap yang perlu kita miliki setiap hari. Tidak selalu memahami seluruh rencana Tuhan, tetapi tetap percaya bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik.
Jalan Tuhan tidak selalu yang termudah, tetapi selalu yang terbaik.
Kiranya dalam setiap keputusan hidup, kita belajar berkata dengan iman: “Jadilah kehendak Tuhan.”
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin