Pasal ini menceritakan kisah Raja Daud yang membawa kembali Tabut Perjanjian ke Yerusalem, tetapi di dalam proses membawa tabut perjanjian, Uza mati karena menyentuh tabut saat lembu-lembu yang membawanya tergelincir (baca ayat 9-10). Mengapa demikian? Bukankah itu adalah niat yang baik?
“Nasib Uza adalah merupakan satu hukuman Ilahi terhadap pelanggaran atas satu perintah yang paling nyata. Melalui Musa Tuhan telah memberikan petunjuk yang khusus sehubungan dengan pemindahan tabut itu. Tidak ada seorang pun kecuali para imam, turunan Harun, boleh menjamahnya, atau sekalipun hanya memandangnya tanpa penutupnya … Dengan demikian, di dalam membawa tabut itu dari Kiryat-Yearim ada satu pelanggaran yang langsung dan tidak dapat dimaafkan terhadap perintah Tuhan.”
Patriarchs and Prophets 705.2
Selain masalah Uza, mereka juga melakukan pelanggaran lainnya.
“Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu.”
1 Tawarikh 13:7
Daud memilih mengangkut tabut dengan kereta baru, bukan dengan cara yang telah ditetapkan Tuhan (dipikul oleh orang Lewi sesuai Keluaran 25:14 dan Bilangan 4:15). Jadi, jangan mengandalkan cara kita sendiri, tetapi cari dan ikuti petunjuk Tuhan.
“Daud dan orang banyak itu telah berhimpun untuk melaksanakan suatu tugas yang suci, dan mereka telah mengambil bagian di dalam pekerjaan itu dengan hati yang senang dan sukarela; tetapi Tuhan tidak dapat menerima pelayanan mereka, oleh karena itu tidak dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-Nya.”
Patriarchs and Prophets 705.3
“Allah tidak dapat menerima penurutan yang setengah-setengah, tidak menerima cara yang sembarangan dalam memperlakukan hukum-hukum-Nya. Dengan menghukum Uza Ia bermaksud untuk mengingatkan Israel akan pentingnya memberikan perhatian yang ketat terhadap segala tuntutan-Nya. Dengan demikian kematian seorang, dengan menuntun mereka kepada pertobatan, akan dapat mencegah perlunya diturunkan hukuman ke atas ribuan orang.”
Patriarchs and Prophets 705.3
Daud dan bangsa Israel memiliki niat yang baik untuk membawa kembali Tabut Perjanjian, tetapi dilakukan dengan cara yang salah. Niat baik saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan ketaatan kepada firman Tuhan.
Jadi, motif yang benar, niat yang baik memang harus ada, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar, yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Kiranya renungan hari ini boleh mengingatkan kita semua untuk mengikuti dengan ketat semua aturan yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin