Setelah menjelaskan tentang adanya pengajar-pengajar palsu, Paulus mengutip perkataan seorang nabi dari Kreta yang menggambarkan keadaan masyarakat di sana. Mereka dikenal sebagai orang yang suka berdusta, hidup tanpa pengendalian diri, dan malas bekerja (ayat 12). Tentu tidak semua orang Kreta seperti itu, tetapi Paulus menunjukkan bahwa pengaruh budaya di sekitar mereka telah membentuk kebiasaan hidup yang jauh dari kehendak Tuhan.
Karena itulah Paulus memberikan nasihat kepada Titus, “… tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman.” (Titus 1:13)
Perhatikan tujuan dari teguran itu. Bukan untuk mempermalukan, bukan untuk menghukum, dan bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih benar. Tujuannya adalah supaya mereka menjadi sehat dalam iman.
Tidak semua teguran itu menyakitkan. Ada teguran yang justru menjadi bukti kasih.
Sering kali kita memandang teguran sebagai sesuatu yang negatif. Tidak sedikit orang merasa tersinggung ketika diingatkan akan kesalahannya. Namun Alkitab menunjukkan bahwa teguran yang didasarkan pada kasih dan firman Tuhan adalah salah satu cara Allah memulihkan umat-Nya.
Tuhan menegur bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan.
Sama seperti seorang dokter terkadang harus melakukan tindakan yang terasa sakit demi menyembuhkan pasiennya, demikian pula Tuhan terkadang menegur kita agar kita tidak terus berjalan di jalan yang salah. Kasih Allah tidak membiarkan anak-anak-Nya tetap hidup dalam kesalahan.
Paulus juga mengingatkan agar jemaat tidak lagi memperhatikan dongeng-dongeng Yahudi dan perintah-perintah manusia yang justru membuat mereka berpaling dari kebenaran (ayat 14). Ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak membangun iman di atas tradisi, pendapat manusia, atau ajaran yang tidak memiliki dasar Alkitab. Iman yang sehat selalu bertumbuh di atas firman Tuhan.
Di zaman sekarang, kita juga hidup di tengah begitu banyak pendapat dan ajaran yang berseliweran melalui media sosial, buku, video, maupun percakapan sehari-hari. Tidak semuanya salah, tetapi tidak semuanya juga benar. Karena itu, kita perlu memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dari firman Tuhan dan kesediaan menerima koreksi ketika hidup kita mulai menyimpang dari kebenaran.
Orang yang mengasihi Tuhan bukanlah orang yang tidak pernah ditegur, melainkan orang yang mau menerima teguran dan bertumbuh karenanya.
Ketika Tuhan menegur kita melalui firman-Nya, melalui Roh Kudus, atau melalui nasihat dari saudara seiman, janganlah mengeraskan hati. Terimalah itu sebagai bukti bahwa Tuhan masih mengasihi dan sedang membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus.
Perenungan bagi kita semua adalah “Bagaimana sikap saya ketika Tuhan menegur saya melalui firman-Nya atau melalui orang lain? Apakah saya menerimanya dengan rendah hati, atau justru menolaknya?” Jawablah dalam hati kita masing-masing.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin