Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, penduduk Malta segera mengambil kesimpulan.
Mereka berkata:
“Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.”
Kisah Para Rasul 28:4
Namun setelah mereka melihat bahwa Paulus tidak mati atau mengalami sesuatu yang berbahaya, pendapat mereka langsung berubah.
“… Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa.”
Kisah Para Rasul 28:6
Betapa cepatnya penilaian manusia berubah.
Beberapa saat sebelumnya Paulus dianggap sebagai seorang penjahat. Tidak lama kemudian, ia dipuji sebagai dewa. Dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa penilaian manusia sering kali didasarkan pada apa yang tampak di luar, bukan pada kebenaran yang sesungguhnya.
Hari ini seseorang dapat dipuji. Besok ia bisa dicela.
Hari ini orang mendukung kita. Besok mereka bisa meninggalkan kita.
Karena itu, jangan membangun nilai diri berdasarkan pendapat manusia.
Jika kita terlalu mengejar pujian, kita akan mudah kecewa ketika menerima kritik. Sebaliknya, jika kita terlalu takut pada penilaian orang lain, kita akan sulit hidup setia kepada Tuhan.
Ingatlah bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh banyaknya pujian atau kerasnya kritik yang kita terima, tetapi ditentukan oleh Tuhan yang telah mengasihi dan menebus kita.
Karena itu, marilah kita hidup untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan untuk mencari pengakuan manusia.
Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan memberkati kita semua. Amin