Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, semua orang yang melihatnya langsung menyimpulkan bahwa ia pasti akan mati.

Mereka berkata: “Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.” (Kisah Para Rasul 28:4)

Namun respons Paulus sangat sederhana.

Paulus tidak panik. Ia tidak membiarkan ular itu terus melekat pada tangannya. Ia segera mengibaskannya ke dalam api.

Peristiwa ini memberikan pelajaran rohani yang indah bagi kita.

Dalam kehidupan, bukan hanya ular yang dapat “melekat” pada kita. Kepahitan, kemarahan, rasa kecewa, iri hati, dan dosa juga dapat melekat di dalam hati jika tidak segera dilepaskan. Semakin lama disimpan, semakin besar pengaruhnya terhadap kehidupan rohani kita.

Banyak orang terluka bukan hanya karena apa yang terjadi, tetapi karena mereka terus memegang luka itu. Mereka terus mengingat kesalahan orang lain dan terus memelihara kepahitan. Akibatnya, “racun” itu perlahan-lahan merusak damai sejahtera dan sukacita yang Tuhan ingin berikan.

Oleh karena itu, jika hari ini ada kepahitan, mari lepaskan kepahitan sebelum kepahitan menguasai hidupmu.

Semakin cepat kita menyerahkannya kepada Tuhan, semakin cepat hati kita dipulihkan oleh kasih karunia-Nya.

Hari ini, adakah “racun” yang masih kita simpan?

Kiranya Tuhan menolong kita untuk melepaskan segala sesuatu yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan, sehingga kita dapat hidup dengan hati yang bersih, damai, dan penuh sukacita.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: