Setelah peristiwa di pasal 18, pada pasal ini memperlihatkan bagaimana Raja Yosafat ditegur dan diberikan amaran perbaikan dan kemudian ia melakukan pembaruan rohani di Yehuda.
Raja Yosafat ditegur oleh nabi Yehu karena bersekutu dengan Raja Ahab, seorang yang fasik (ayat 1-3). Walau ia raja yang baik, keputusan yang salah tetap mendapatkan teguran dari Tuhan.
Kita bisa menjadi orang yang tulus dan takut akan Tuhan, tetapi keputusan buruk tetap memiliki konsekuensi. Tuhan menegur karena Ia mengasihi dan ingin memulihkan kita.
Lalu apa respons Yosafat ketika mendapat teguran dan amaran untuk perbaikan?
Alih-alih marah atau keras hati, Yosafat menerima teguran itu dengan mengadakan reformasi rohani. Ia pergi ke seluruh negeri untuk membawa umat kembali kepada Tuhan (baca kisah lengkapnya apa saja pembaruan rohani yang dilakukan Yosafat di pasal ini)
“Tahun-tahun terakhir dalam pemerintahan Yosafat sebagian besar dipergunakan untuk memperkuat pertahanan nasional dan kerohanian Yudea.”
Prophets and Kings 196.4
“Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah, dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.”
2 Tawarikh 19:4
“Sang raja memperingatkan agar para hakim ini berlaku setia.”
Prophets and Kings 197.3
“Ia memerintahkan mereka: ‘Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, …’”
2 Tawarikh 19:9
Dari sini kita juga diingatkan pentingnya kerendahan hati. Mengapa? Karena kerendahan hati untuk menerima teguran adalah kunci pertumbuhan rohani. Pemimpin yang sejati akan membawa perubahan setelah dikoreksi oleh Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau menerima teguran Tuhan dengan kerendahan hati? Apakah kita sudah membuat pembaruan rohani dalam kehidupan kita?
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin