Pasal ini menceritakan kisah Raja Yosafat menghadapi serangan besar dari musuh-musuh Yehuda. Baca atau dengarkan kisah lengkapnya di pasal ini.
“Menjelang akhir pemerintahan Yosafat, kerajaan Yehuda diserbu oleh pasukan yang membuat penduduk negeri itu gemetar …. namun dalam krisis ini ia tidak mengandalkan kekuatan manusia. Bukan dengan pasukan yang terlatih dan kota-kota yang dipagari, tetapi dengan iman yang hidup kepada Allah Israel ….”
Conflict and Courage 217.2
Apa yang ia lakukan? Ia mengajak seluruh Yehuda untuk berpuasa dan berdoa meminta pertolongan dari Tuhan (ayat 3-4).
“Berdiri di pelataran bait suci di hadapan rakyatnya, Yosafat mencurahkan jiwanya dalam doa, memohon janji-janji Tuhan, dengan pengakuan akan ketidakberdayaan Israel . . . .”
Conflict and Courage 217.3
“Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.”
2 Tawarikh 20:12
“Selama bertahun-tahun ia telah mengajar orang-orang untuk percaya kepada Dia yang pada zaman dahulu begitu sering campur tangan untuk menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya dari kehancuran total; dan sekarang, ketika kerajaan dalam bahaya, Yosafat tidak berdiri sendiri; “seluruh Yehuda berdiri di hadapan Tuhan, dengan anak-anak mereka yang masih kecil, istri-istri mereka, dan anak-anak mereka.” Mereka berpuasa dan berdoa bersama-sama; mereka bersatu padu memohon kepada Tuhan agar mengacaukan musuh-musuh mereka, agar nama Tuhan dipermuliakan. . . .”
Conflict and Courage 217.4
“Allah adalah kekuatan Yehuda dalam krisis ini, dan Dia adalah kekuatan umat-Nya saat ini. Kita tidak boleh percaya kepada para pangeran, atau menempatkan manusia di tempat Allah. Kita harus ingat bahwa manusia bisa salah dan melakukan kesalahan ….”
Conflict and Courage 217.5
Doa Yosafat mengingatkan kita bagaimana berdoa dengan mengakui kuasa Tuhan, mengingat janji-Nya, dan menyerahkan ketakutan kita kepada-Nya. Ayat 12 sangat menyentuh: “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” Ini adalah bentuk kerendahan hati dan kepercayaan total pada Tuhan.
Kiranya kita bisa seperti Yosafat, yaitu memberikan kepercayaan total kepada Tuhan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin