Apakah mungkin seseorang terlihat rohani di luar, tetapi sebenarnya tidak jujur di hadapan Tuhan?

Pasal ini dibuka dengan kisah Ananias dan Safira—sebuah peringatan yang keras namun penting.

Ananias dan Safira menjual tanah mereka, tetapi dengan sengaja menahan sebagian dari hasilnya dan berpura-pura menyerahkan semuanya kepada para rasul. Petrus menegur mereka karena bukan sekadar berdusta kepada manusia, melainkan kepada Allah. Akibatnya, keduanya mati.

“Ananias dan Safira telah mendukakan Roh Kudus karena menyerah pada perasaan tamak.”

The Acts of the Apostles 72.1

Mereka memang tamak, tetapi mengapa mereka tetap berusaha memberi?

“Mereka melihat bahwa orang yang memberikan harta miliknya untuk mencukupi keperluan saudara-saudara yang lebih miskin, dihormati di antara orang-orang percaya … mereka mengambil keputusan untuk menjual harta mereka dan berpura-pura memberikan seluruh penghasilan … tetapi sebenarnya menyimpan sebagian besar untuk mereka sendiri. Dengan demikian mereka dapat menjamin penghidupan mereka … sekaligus mendapat penghormatan yang tinggi dari saudara-saudara mereka.”

The Acts of the Apostles 72.1

Mereka tidak memberi karena kasih, tetapi karena ingin terlihat rohani. Itulah sebabnya Alkitab dan pena inspirasi mengingatkan kita:

“Allah membenci kepura-puraan dan kepalsuan.”

The Acts of the Apostles 72.2

Dari sini kita belajar bahwa kehidupan rohani bukan tentang penampilan luar saja, tetapi tentang kejujuran di hadapan Allah. Lebih baik sederhana tetapi tulus, daripada terlihat baik tetapi penuh kepura-puraan.

Apa pun yang kita bawa kepada-Nya, biarlah itu datang dari hati yang jujur—bukan untuk dilihat manusia, tetapi untuk berkenan di hadapan-Nya.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

 

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: