“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.”
Roma 9:16
Pada bagian sebelumnya, kita melihat bahwa rencana Allah tidak ditentukan oleh jasa atau keunggulan manusia. Namun, hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan: jika Allah memilih menurut kehendak-Nya sendiri, apakah berarti Dia tidak adil?
Paulus menjawab dengan tegas: “Sekali-kali tidak!”
Ia kemudian mengingatkan tentang Musa dan Firaun. Allah menunjukkan kemurahan-Nya kepada Musa, sedangkan melalui Firaun, Allah menyatakan kuasa-Nya sehingga nama-Nya dikenal di seluruh bumi.
Hal ini mengajarkan bahwa kemurahan Allah bukan sesuatu yang dapat kita tuntut sebagai upah atas kebaikan kita. Tidak seorang pun dapat membanggakan diri seolah-olah keselamatan adalah hasil usahanya sendiri. Kita semua membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Lalu bagaimana dengan Firaun yang hatinya dikeraskan Allah? Kisah dalam Keluaran menunjukkan bahwa Firaun berulang kali mengeraskan hatinya dan menolak perintah Tuhan. Allah tidak memaksanya menjadi jahat, tetapi membiarkan pilihan pemberontakannya membawa akibat.
“Firaun menaburkan sikap keras kepala, dan ia menuai hasil yang sama dalam karakternya.”
Review and Herald, February 17, 1891, par. 1
Jangan keraskan hati ketika Tuhan masih memberi kesempatan untuk berubah.
Kita belajar bahwa Allah berdaulat, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan sikap hatinya. Ketika Tuhan menunjukkan kemurahan dan memberikan kesempatan, janganlah kita mengeraskan hati dan menolak tuntunan-Nya.
Jangan sia-siakan kemurahan Tuhan dengan terus memilih jalan yang salah.
Kiranya kita tidak mempertanyakan kemurahan Tuhan dengan kesombongan, tetapi belajar menerima kasih karunia-Nya dengan rendah hati dan menanggapi tuntunan-Nya dengan iman serta ketaatan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin
