Stefanus berada dalam situasi yang tidak mudah. Ia difitnah, dituduh, dan dihadapkan pada Mahkamah Agama. Secara manusia, ini adalah momen yang menegangkan dan menakutkan.

Namun di tengah semua itu, terjadi sesuatu yang luar biasa:

Wajahnya tidak mencerminkan ketakutan, melainkan damai dan kemuliaan. Mengapa demikian? Karena hatinya dipenuhi Roh Kudus.

Di tengah tekanan, ia tidak dikuasai oleh ketakutan atau kemarahan, melainkan oleh damai sejahtera dari Tuhan. Wajahnya menjadi cerminan dari apa yang ada di dalam hatinya.

Seperti Musa yang wajahnya bersinar setelah bertemu Tuhan, demikian juga Stefanus—hidup yang dekat dengan Tuhan akan memancarkan sesuatu yang berbeda, bahkan tanpa sepatah kata.

Hal ini mengajarkan kita bahwa kesaksian bukan hanya dari apa yang kita ucapkan, tetapi juga dari apa yang terpancar dari hidup kita.

Apa yang memenuhi hati kita akan terlihat dalam hidup kita—terutama saat tekanan datang.

Marilah kita hidup dekat dengan Tuhan, supaya ketika tekanan datang, yang terpancar dari hidup kita bukan ketakutan, melainkan kemuliaan Tuhan.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: