Kitab Kisah Para Rasul ditutup dengan sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi penuh makna.
Paulus memang telah tiba di Roma. Namun ia belum dibebaskan. Ia masih menjalani tahanan rumah selama dua tahun.
Secara manusia, tampaknya pelayanan Paulus telah dibatasi. Ia tidak lagi bebas mengunjungi kota-kota. Ia tidak dapat lagi melakukan perjalanan misi seperti sebelumnya.
Tetapi justru di tengah keterbatasan itu, Alkitab mencatat:
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”
Kisah Para Rasul 28:30-31
Perhatikan kalimat terakhir:
“Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa…”
Paulus memang terbelenggu, tetapi Injil tidak. Rumah tahanan itu justru menjadi tempat orang-orang datang untuk mendengar kabar keselamatan.
Apa yang tampaknya menjadi akhir pelayanan Paulus, ternyata menjadi cara Tuhan membuka kesempatan pelayanan yang baru.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Mungkin ada keterbatasan yang tidak dapat kita hindari: Usia, Kesehatan, keadaan ekonomi, pekerjaan, atau berbagai pergumulan lainnya. Namun keterbatasan kita tidak pernah menjadi keterbatasan bagi Tuhan.
Dia tetap dapat memakai hidup kita untuk memberkati orang lain. Selama hati kita tetap terbuka bagi-Nya, selalu ada kesempatan untuk melayani.
Menariknya, Kitab Kisah Para Rasul berakhir tanpa menceritakan bagaimana akhir hidup Paulus.
Seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kisah penyebaran Injil belum selesai. Pekerjaan Tuhan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hari ini, kita adalah bagian dari kisah itu. Kita dipanggil untuk meneruskan kabar baik tentang Kristus melalui perkataan, tindakan, dan kehidupan kita.
Kiranya, apa pun keadaan kita saat ini, kita tetap memiliki keberanian untuk hidup bagi Kristus.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin