Setelah Paulus naik banding kepada Kaisar, Raja Agripa dan Bernike datang mengunjungi Festus di Kaisarea.
Ketika menjelaskan perkara Paulus kepada Agripa, Festus mengakui bahwa ia sebenarnya kebingungan mengenai inti persoalan yang diperdebatkan.
“Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup.”
Kisah Para Rasul 25:19
Tanpa disadari, Festus justru mengucapkan inti dari iman Kristen.
Bagi Festus, persoalan itu tampak seperti perdebatan agama yang rumit dan tidak penting. Namun bagi Paulus, inilah kebenaran yang paling penting di dunia.
Yesus bukan sekadar seorang guru yang pernah hidup. Ia bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang karena ajaran-Nya.
Paulus bersaksi bahwa Yesus yang telah mati itu sekarang hidup. Inilah dasar pengharapan orang percaya.
Kekristenan tidak dibangun di atas seorang tokoh yang masih berada di dalam kubur. Kekristenan dibangun di atas Juruselamat yang telah bangkit dan hidup untuk selama-lamanya.
Karena Yesus hidup, dosa dapat diampuni.
Karena Yesus hidup, doa-doa kita didengar.
Karena Yesus hidup, kita memiliki pengharapan di tengah penderitaan.
Karena Yesus hidup, kematian bukanlah akhir cerita bagi orang percaya.
Bagi Paulus, keyakinan ini begitu nyata sehingga ia rela dipenjara, ditolak, bahkan mempertaruhkan nyawanya.
Hari ini, marilah kita bersyukur karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup. Karena ini akan memberi kita kekuatan, pengharapan, dan keberanian untuk tetap setia kepada-Nya.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin