Dalam perjalanan pelayanannya, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika lalu memberitakan Injil di rumah ibadat orang Yahudi.
Sebagian orang menerima firman Tuhan, tetapi sebagian lainnya menolak dan menimbulkan keributan. Karena itu, Paulus dan Silas kemudian pergi ke Berea.
Di kota Berea, Alkitab mencatat sesuatu yang sangat indah:
“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”
Kisah Para Rasul 17:11
Orang Berea tidak langsung menolak, tetapi juga tidak langsung percaya begitu saja. Mereka mau membuka hati untuk mendengar, lalu memeriksa semuanya berdasarkan Kitab Suci.
Inilah sikap yang Tuhan kehendaki.
Iman yang benar bukan dibangun di atas perasaan, tradisi, atau sekadar ikut orang lain, tetapi di atas firman Tuhan.
Di zaman sekarang, ada begitu banyak suara, pendapat, dan ajaran yang beredar. Tetapi ingatlah bahwa tidak semua yang terdengar rohani benar berasal dari Tuhan.
Karena itu, kita tidak boleh hanya menerima sesuatu karena populer, menyentuh emosi, atau disampaikan dengan meyakinkan.
Tuhan ingin kita menjadi seperti orang Berea — memiliki hati yang terbuka, tetapi juga mau menyelidiki firman Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Orang yang mencintai kebenaran akan rindu mengenal firman Tuhan lebih dalam setiap hari.
Marilah kita meminta hati yang rendah dan mau diajar oleh Tuhan.
Kiranya firman Tuhan menjadi dasar iman kita, sehingga kita tidak mudah disesatkan, tetapi tetap berdiri teguh di dalam kebenaran-Nya.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin