Pasal ini mencatatkan mengenai bagaimana Tuhan mengatur posisi perkemahan bangsa Israel di padang gurun.
Setiap suku mendapat tempat yang jelas, teratur, dan semuanya menghadap ke Kemah Pertemuan, yaitu tempat kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya.
“Orang Israel harus berkemah masing-masing dekat panji-panjinya, menurut lambang suku-sukunya. Mereka harus berkemah di sekeliling Kemah Pertemuan, agak jauh dari padanya.”
Bilangan 2:2
Dari perkemahan yang diatur ini, setidaknya ada dua hal yang bisa kita pelajari, yaitu:
Pertama, Allah kita adalah Allah yang teratur. Tidak ada suku yang berkemah sembarangan. Semuanya diatur dengan rapi sesuai perintah Tuhan. Jadi, Tuhan suka keteraturan dan kerapian.
“… kemah-kemah keluarga, dalam kerapian dan keteraturannya, yang memberikan gambaran tentang kehidupan rumah tangga, hendaknya menjadi khotbah yang terus-menerus ….”
Testimonies for the Church Vol. 6, 35.2
Kerapian dan keteraturan dalam hidup kita bisa menjadi khotbah yang hidup. Jadi, mari hidup rapi dan teratur.
Kedua, Tuhan adalah pusat kehidupan. Kemah Pertemuan berada di tengah-tengah perkemahan. Artinya, Tuhan adalah pusat dari seluruh kehidupan Israel. Dan sama dengan kehidupan kita, pertanyaannya bagi kita adalah “Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita?”
Jadi, marilah kita hidup rapi, teratur, dan jadikanlah Tuhan sebagai pusat kehidupan kita.
Kiranya renungan ini boleh memberkati kita semua.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin