Dalam ayat ini, Paulus menyatakan bahwa memberitakan Injil bukanlah sesuatu yang ia lakukan untuk mendapatkan pujian atau sebagai alasan untuk membanggakan diri. Sebaliknya, ia merasa bahwa memberitakan Injil adalah sebuah panggilan yang tidak bisa diabaikan.

Namun kesadaran akan panggilan untuk memberitakan Injil saja tidak cukup. Di bagian akhir pasal ini Paulus menambahkan prinsip yang sangat penting:

“Ia [Paulus] menyadari pentingnya kewaspadaan yang terus-menerus dan penyangkalan diri.”

The Review and Herald 3 Mei 1881

Di sini Paulus menunjukkan bahwa seorang pemberita Injil bukan hanya harus berbicara tentang kebenaran, tetapi juga hidup dalam pengendalian diri dan disiplin rohani. Ia menggunakan gambaran seorang atlet yang melatih tubuhnya dengan keras agar siap dalam perlombaan.

Paulus tidak ingin menjadi seseorang yang mengajarkan keselamatan kepada orang lain, tetapi hidupnya sendiri tidak mencerminkan kebenaran yang ia beritakan.

Panggilan untuk memberitakan Injil harus disertai dengan kehidupan yang disiplin, penguasaan diri, dan kesetiaan kepada Tuhan. Mengapa demikian? Karena anak kalimat dalam ayat 27 menjelaskan alasannya: “… supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Jangan sampai kita menuntun banyak orang kepada keselamatan, tetapi kehilangan keselamatan itu sendiri.

Kiranya Tuhan menolong kita agar kehidupan kita selalu selaras dengan Injil yang kita beritakan, sehingga kita tidak hanya menuntun orang lain kepada keselamatan, tetapi juga tetap setia sampai akhir.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: