Setelah menjelaskan bahwa Allah berdaulat dan manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya, Paulus mengantisipasi sebuah pertanyaan: jika demikian, mengapa Allah masih menyalahkan manusia? 

Paulus menjawab dengan gambaran seorang tukang periuk dan tanah liat. Tukang periuk memiliki hak untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai jenis bejana sesuai dengan tujuannya. Demikian juga, Allah sebagai Pencipta memiliki hak dan kuasa untuk menjalankan rencana-Nya. 

Melalui gambaran ini, Paulus mengingatkan kita tentang keterbatasan manusia. Kita sering merasa bahwa kita mengetahui apa yang terbaik, bahkan terkadang menganggap keputusan Tuhan harus selalu sesuai dengan pemahaman kita. 

Ketika doa belum dijawab, jalan hidup tidak sesuai harapan, atau kita tidak memahami apa yang Tuhan izinkan terjadi, kita bisa mulai mempertanyakan kebijaksanaan-Nya. 

“Dalam maksud dan tindakan Allah terdapat hal-hal misterius yang tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia yang terbatas. Dan karena kita tidak dapat menyelami rahasia hikmat dan kuasa-Nya yang tidak terbatas, kita dipenuhi rasa hormat dan kekaguman kepada Yang Mahatinggi.”

Review and Herald, September 14, 1886, par. 1

Tentu, kita boleh bertanya dan mencari pemahaman melalui firman Tuhan. Namun, jangan sampai pertanyaan kita berubah menjadi sikap menyalahkan Allah seolah-olah kita lebih tahu daripada Dia. 

Kita boleh saja tidak memahami jalan Tuhan, tetapi jangan meragukan kebijaksanaan-Nya. 

Kiranya kita memiliki hati yang rendah hati di hadapan Pencipta kita. Belajarlah mempercayai-Nya, sekalipun tidak semua rencana dan jalan-Nya dapat kita pahami sekarang. 

Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

https://youtu.be/M8baRBi3B7Y

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: