Ketika Paulus singgah di Troas, orang-orang percaya berkumpul untuk mendengarkan firman Tuhan. Dan karena Paulus akan melanjutkan perjalanannya keesokan hari, ia menggunakan kesempatan itu untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepada jemaat (ayat 7).
Di antara mereka ada seorang pemuda bernama Eutikhus yang duduk di jendela. Karena malam sudah larut dan Paulus berbicara cukup lama, ia tertidur dan terjatuh dari tingkat tiga.
“Karena ia tidak dapat menahan kantuknya lagi, ia tertidur lalu jatuh dari tingkat ketiga ke bawah dan diangkat sudah mati.”
Kisah Para Rasul 20:9
Paulus sedang menyampaikan firman Tuhan, dan jemaat begitu rindu mendengarkannya sehingga mereka rela berkumpul hingga larut malam. Bagi mereka, kesempatan untuk menerima pengajaran firman Tuhan merupakan sesuatu yang sangat berharga.
Syukur kepada Tuhan, melalui kuasa-Nya, Eutikhus dihidupkan kembali. Sukacita jemaat pun dipulihkan.
Namun kisah ini mengajak kita untuk merenungkan keadaan rohani kita sendiri: “Apakah kita masih memiliki kerinduan yang sama terhadap firman Tuhan?”
Di zaman yang penuh kesibukan dan gangguan seperti sekarang, sangat mudah bagi perhatian kita untuk tersita oleh banyak hal. Waktu untuk membaca Alkitab, berdoa, dan merenungkan firman sering kali menjadi yang pertama dikurangi ketika jadwal kita padat. Tanpa disadari, hati kita dapat menjadi lelah secara rohani.
“Tidak seorang pun aman sehari atau sejam pun tanpa doa. Terutama kita harus memohon hikmat kepada Tuhan untuk memahami firman-Nya.”
The Great Controversy 530.2
Jika doa dan firman Tuhan diabaikan, kekuatan rohani kita akan melemah. Sebaliknya, ketika kita terus bersekutu dengan Tuhan, iman kita akan dikuatkan dan dijaga.
Oleh karena itu, jangan biarkan kesibukan, hiburan, pekerjaan, atau berbagai urusan dunia membuat kita kehilangan rasa lapar akan firman Tuhan.
Marilah kita memohon agar Tuhan memperbarui kerinduan kita kepada firman-Nya.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin