“Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.”
Kisah Para Rasul 13:14
Setelah tiba di Antiokhia Pisidia, Paulus dan Barnabas masuk ke rumah ibadah pada hari Sabat. Di sana Paulus berdiri dan mulai menyampaikan firman Tuhan.
Ia menjelaskan bagaimana Tuhan memimpin bangsa Israel sejak dahulu, lalu mengarahkan perhatian kepada Yesus Kristus sebagai Juru selamat yang dijanjikan.
Banyak orang tersentuh oleh pemberitaan itu. Bahkan setelah ibadah selesai, “… mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya.” (Kisah Para Rasul 13:42)
Namun ketika orang banyak mulai datang mendengarkan Paulus, sebagian pemimpin Yahudi menjadi iri hati (ayat 45). Mereka mulai menentang dan menghujat pemberitaan Injil.
Di sinilah kita melihat sebuah pelajaran penting:
Respons hati menentukan apakah firman Tuhan akan membawa perubahan atau justru ditolak.
Ada orang yang membuka hati dan menerima kebenaran, tetapi ada juga yang menolak karena iri hati dan keras hati.
Sampai hari ini, firman Tuhan masih terus disampaikan. Namun tidak semua orang merespons dengan hati yang terbuka.
Kadang kita mendengar firman hanya sebagai pengetahuan.
Kadang kita menolak teguran karena tidak sesuai dengan keinginan kita.
Padahal setiap kesempatan mendengar firman Tuhan adalah kesempatan untuk diubahkan. Jangan menyia-nyiakan kesempatan itu. Jangan sampai hati kita menjadi terlalu keras untuk mendengar suara Tuhan.
Marilah kita belajar memiliki hati yang lapar akan firman Tuhan dan siap menerima kebenaran-Nya dengan rendah hati. Sebab firman Tuhan bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk mengubah hidup kita.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin