Pasal ini dimulai dengan penganiayaan besar terhadap jemaat setelah kematian Stefanus. Banyak orang percaya tercerai-berai dan meninggalkan Yerusalem. Secara manusia, ini tampak seperti kemunduran.
Namun justru di sanalah rencana Tuhan dinyatakan.
“Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.”
Kisah Para Rasul 8:4
“Untuk menyebarkan utusan-utusan-Nya ke berbagai penjuru, di mana mereka dapat melayani sesama, Allah mengizinkan penganiayaan menimpa mereka.”
The Acts of the Apostles 105.2
Jadi, penganiayaan ini tidak menghentikan pekerjaan Tuhan, justru menjadi alat untuk menyebarkan Injil lebih luas. Injil tidak terikat pada satu tempat, tetapi ia bergerak melalui kehidupan orang-orang yang setia.
Filipus pergi ke Samaria dan memberitakan Kristus. Banyak orang percaya, mukjizat terjadi, dan sukacita besar memenuhi kota itu. Bahkan di tengah kegelapan, terang Tuhan tetap bersinar.
Filipus juga dipimpin Roh Kudus untuk menjangkau satu orang—seorang sida-sida dari Etiopia. Dari satu pertemuan, Injil dibawa ke bangsa lain.
Penganiayaan tidak menghentikan Injil—justru menyebarkannya.
Pertanyaan untuk kita renungkan adalah “Apakah penganiayaan akan menghentikan kita untuk menyebarkan Injil?” jawablah dalam hati kita masing-masing.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin