Kemarin kita sudah membaca mengenai kejatuhan Yerusalem. Sebagian besar penduduk dibuang ke Babel, tetapi Yeremia mendapatkan perlakuan khusus dari penjajah Babel. Dia dibebaskan dan diberi pilihan: pergi ke Babel dengan jaminan keamanan, atau tinggal di tanah Yehuda dengan umat yang tersisa.
“Maka sekarang, lihatlah aku melepaskan engkau hari ini dari belenggu yang ada pada tanganmu itu. Jika engkau suka untuk ikut pergi dengan aku ke Babel, marilah! Aku akan memperhatikan engkau. Tetapi jika engkau tidak suka untuk ikut pergi dengan aku ke Babel, janganlah pergi! Lihat, seluruh negeri ini terbuka untuk engkau: engkau boleh pergi ke mana saja engkau pandang baik dan benar.”
Yeremia 40:4
Apa pilihan Yeremia? Jika ia memilih untuk pergi ke Babel berarti hidupnya akan terjamin dan terpelihara. Jika ia memilih tinggal di Yehuda berarti ia akan menghadapi ketidakpastian.
Pilihan Yeremia dicatat di ayat 6, “Jadi pergilah Yeremia kepada Gedalya bin Ahikam di Mizpa, dan diam bersama-sama dengan dia di tengah-tengah rakyat yang masih tinggal di negeri itu.” (Yeremia 40:6)
Jadi Yeremia memilih untuk tetap tinggal di Yehuda. Lalu pelajaran apa yang bisa kita dapat? Saya secara pribadi merenungkan kisah ini dan belajar satu hal yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita.
Hidup itu penuh pilihan dan apa pun yang kita pilih, kita harus menyadari bahwa ada konsekuensi yang akan kita tanggung. Jadi pilihlah dengan bijak dan jangan lupa untuk berdoa dan bertanya kepada Tuhan untuk setiap pilihan yang kita ambil.
Hidupmu adalah hasil dari pilihanmu. Pastikan setiap pilihanmu disertai doa, bukan sekadar keinginan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin