Paulus melanjutkan suratnya kepada jemaat di Roma dengan mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi mereka. Ia berkata, “… aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu.” (Roma 1:11)
Paulus tidak hanya ingin datang untuk berbicara atau mengajar. Ia ingin kehadirannya menjadi berkat dan menguatkan iman jemaat. Bahkan ia menyadari bahwa dirinya juga dapat dikuatkan melalui iman mereka. Ia berkata, “… supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama ….” (Roma 1:12)
Sungguh menarik. Seorang rasul yang telah banyak melayani tidak merasa bahwa hanya dirinya yang harus menguatkan orang lain. Paulus juga menyadari bahwa ia membutuhkan iman dan persekutuan dengan saudara-saudara seiman.
Kemudian Paulus menyampaikan satu pernyataan yang sangat terkenal: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya ….” (Roma 1:16)
Paulus tidak malu terhadap Injil. Mengapa? Karena ia memahami bahwa Injil bukan sekadar berita tentang agama, tetapi kekuatan Allah yang membawa keselamatan. Injil adalah kabar tentang kasih karunia Allah melalui Kristus yang dapat mengubah kehidupan manusia.
Kadang-kadang kita merasa malu menunjukkan iman kita karena takut dianggap berbeda, takut dinilai terlalu rohani, atau takut pendapat kita tidak diterima. Akibatnya, kita lebih mudah menyembunyikan iman daripada membagikannya.
Namun Paulus mengingatkan kita bahwa Injil terlalu berharga untuk disembunyikan. Kita tidak dipanggil untuk memaksakan iman kepada orang lain, tetapi melalui kehidupan dan perkataan kita, kita dapat dengan berani menunjukkan bahwa Kristus adalah sumber pengharapan kita.
Pertanyaan bagi kita semua adalah “Apakah saya masih merasa malu menunjukkan iman saya kepada orang lain?” Jawablah itu dalam hati kita masing-masing.
Jangan malu terhadap Injil, karena sesuatu yang mampu menyelamatkan hidup manusia tidak seharusnya kita sembunyikan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin