Setelah dihadapkan kepada Mahkamah Agama, Paulus mendapati dirinya berada di tengah situasi yang sangat sulit. Para pemimpin agama tidak datang untuk mencari kebenaran, tetapi sudah dipenuhi prasangka terhadap dirinya.
Namun di tengah tekanan itu, Paulus tidak kehilangan ketenangan maupun hikmat.
Alkitab mencatat:
“Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: ‘Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.’”
Kisah Para Rasul 23:6
Pernyataan itu segera menimbulkan perdebatan antara kelompok Farisi dan Saduki, karena mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai kebangkitan, malaikat, dan roh.
Melalui situasi ini, kita melihat bahwa Tuhan tidak hanya memberi Paulus keberanian, tetapi juga hikmat untuk menghadapi keadaan yang sulit.
Dalam menghadapi masalah, tidak semua situasi harus diselesaikan dengan konfrontasi. Ada kalanya Tuhan menolong kita melalui kebijaksanaan dalam berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan.
Hikmat yang berasal dari Tuhan membantu kita melihat jalan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Oleh karena itu, sebelum bertindak atau mengambil keputusan, marilah kita mencari hikmat Tuhan terlebih dahulu.
Orang yang bersandar kepada Tuhan akan menerima hikmat pada waktunya.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin