Setelah orang banyak menolak kesaksian Paulus, kepala pasukan Romawi memerintahkan agar Paulus diperiksa dengan cambuk untuk mengetahui apa sebenarnya kesalahannya.
Paulus pun dibawa masuk ke markas dan diikat untuk dihukum. Namun sebelum hukuman itu dilaksanakan, Paulus mengajukan sebuah pertanyaan yang penting:
“Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?”
Kisah Para Rasul 22:25
Pertanyaan itu segera mengubah keadaan. Menurut hukum Romawi, seorang warga negara Romawi tidak boleh dicambuk tanpa proses hukum yang sah. Ketika kepala pasukan mengetahui bahwa Paulus adalah warga negara Romawi, ia menjadi takut karena telah mengikat Paulus tanpa pemeriksaan yang semestinya.
Menariknya, Paulus tidak menggunakan haknya untuk mencari keuntungan pribadi atau menghindari semua kesulitan. Sebelumnya ia telah berkali-kali mengalami penderitaan demi Injil.
Namun pada saat yang tepat, ia menggunakan hak yang dimilikinya untuk melindungi dirinya dan menjaga agar pelayanannya dapat terus berjalan.
Kisah ini mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan hikmat.
Tuhan menghendaki agar kita menggunakan segala sesuatu yang telah dipercayakan kepada kita dengan bijaksana untuk kemuliaan-Nya.
Paulus tidak bertindak karena kesombongan atau kepentingan diri sendiri. Ia bertindak dengan tenang, bijaksana, dan sesuai dengan kebenaran.
Tuhan juga memberikan akal budi, hikmat, dan berbagai sarana yang dapat digunakan untuk melakukan yang benar.
Tak heran Alkitab mencatat:
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Matius 10:16
Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang tulus, tetapi juga pikiran yang bijaksana.
Kiranya kita menggunakan semua yang Tuhan berikan pada kita dengan bijaksana untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.
Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan memberkati kita semua. Amin