Stefanus berada dalam situasi yang tidak mudah. Ia difitnah, dituduh, dan dihadapkan pada Mahkamah Agama. Secara manusia, ini adalah momen yang menegangkan dan menakutkan.
Namun di tengah semua itu, terjadi sesuatu yang luar biasa:
“Semua orang yang duduk dalam Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat mukanya sama seperti muka seorang malaikat.”
Kisah Para Rasul 6:15
Wajahnya tidak mencerminkan ketakutan, melainkan damai dan kemuliaan. Mengapa demikian? Karena hatinya dipenuhi Roh Kudus.
Di tengah tekanan, ia tidak dikuasai oleh ketakutan atau kemarahan, melainkan oleh damai sejahtera dari Tuhan. Wajahnya menjadi cerminan dari apa yang ada di dalam hatinya.
Seperti Musa yang wajahnya bersinar setelah bertemu Tuhan, demikian juga Stefanus—hidup yang dekat dengan Tuhan akan memancarkan sesuatu yang berbeda, bahkan tanpa sepatah kata.
Hal ini mengajarkan kita bahwa kesaksian bukan hanya dari apa yang kita ucapkan, tetapi juga dari apa yang terpancar dari hidup kita.
Apa yang memenuhi hati kita akan terlihat dalam hidup kita—terutama saat tekanan datang.
Marilah kita hidup dekat dengan Tuhan, supaya ketika tekanan datang, yang terpancar dari hidup kita bukan ketakutan, melainkan kemuliaan Tuhan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin