Pasal ini membahas dua karunia Rohani, yaitu karunia bernubuat dan bahasa roh. Ia tidak menentangkan keduanya, tetapi menjelaskan fungsi dan prioritasnya dalam kehidupan jemaat.
“Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.”
1 Korintus 14:39
Perbedaan yang dijelaskan Paulus adalah siapa yang dibangun oleh karunia tersebut.
- Bahasa roh tanpa penafsiran → terutama membangun diri sendiri (1 Kor. 14:4).
- Bernubuat → membangun, menasihati, dan menghibur jemaat (1 Kor. 14:3).
Karena itu Paulus berkata:
“… orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”
1 Korintus 14:5
Jadi nubuat lebih diutamakan dalam ibadah umum karena jemaat dapat memahami pesannya.
Paulus tidak merendahkan bahasa roh. Ia hanya menegaskan bahwa bahasa roh harus disertai penafsiran agar jemaat dapat dibangun.
Jika ada penafsiran, maka isi bahasa roh dapat dipahami dan fungsinya menjadi sama seperti nubuat, yaitu menyampaikan pesan yang membangun jemaat.
Apakah itu bahasa roh? Apakah itu bahasa yang memang bisa ditafsirkan? Jangan sampai kita salah memahami pengertian mengenai bahasa roh. Oleh karena itu, besok kita akan membahas mengenai hal ini agar kita bisa lebih memahami renungan hari ini.
Jadi, karunia rohani bukan diberikan untuk menunjukkan pengalaman spiritual seseorang, tetapi untuk:
- membangun iman jemaat
- menyampaikan firman Tuhan
- menciptakan ketertiban dalam ibadah
Kiranya renungan ini bermanfaat bagi kita semua.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin