Ada dua ayat yang bisa menjadi perenungan kita bersama, yaitu ayat 15-16.

Mereka memang sempat bertobat dan melakukan hal benar dengan membebaskan budak, tetapi setelah itu mereka berbalik lagi dari Tuhan. Jadi ini Adalah pertobatan yang dangkal, bukan hasil perubahan hati, melainkan reaksi terhadap tekanan situasi.

Pena inspirasi menjelaskan mengenai pertobatan yang dangkal.

“Banyak orang yang gagal memahami keadaan sesungguhnya dari pertobatan sejati itu. Orang banyak merasa sedih karena mereka telah berbuat dosa dan melakukan pembaharuan secara lahiriah karena takut perbuatan salah mereka akan mendatangkan penderitaan atas diri mereka sendiri. Namun, ini bukanlah pertobatan yang dikatakan di dalam Alkitab. Mereka meratapi penderitaan, alih-alih dosanya. Demikianlah dukacita Esau ketika ia melihat hak kesulungannya hilang selamanya. Bileam, yang ketakutan karena malaikat yang menghalangi jalannya dengan pedang terhunus, mengakui kesalahannya karena takut kehilangan nyawanya; tetapi tidak ada pertobatan sejati atas dosa, tidak ada perubahan tujuan, tidak ada rasa muak terhadap kejahatan.”

Steps to Christ 23.3

Jadi, jika kita hanya “bertobat” karena merasa takut akan akibatnya, bukan karena kita merasa muak dengan kejahatan, mungkin kita juga sama seperti Esau dan Bileam, yang mana itu bukan pertobatan yang sejati.

Mari kita renungkan diri kita sendiri, apakah saya sudah melakukan pertobatan yang sejati? Jawablah dalam hati kita masing-masing.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: