Ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari: ketika tidak ada konsekuensi dosa secara langsung, kita merasa aman untuk berbuat dosa. Kesabaran Allah yang panjang mendorong sebagian orang untuk berbuat lalai.

Kita berpikir, “Tidak apa-apa… Tuhan tidak menghukum saya.” Sehingga kita menunda bertobat karena merasa semuanya masih berjalan dengan baik.

Penundaan hukuman bukan berarti Tuhan menyetujui dosa. Diamnya Tuhan bukan tanda Ia tidak peduli.

Kesabaran Allah seharusnya membawa kita pada pertobatan, bukan keberanian untuk terus melanggar. Tetapi ketika hukuman tertunda, manusia sering salah menafsirkan kasih sebagai kelemahan.

“Dalam hubungan-Nya dengan umat manusia,Allah panjang sabar terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat. Ia menggunakan perantara-perantara yang telah ditetapkan-Nya untuk memanggil manusia supaya setia kepada-Nya, dan menawarkan pengampunan penuh jika mereka mau bertobat. Tetapi karena Allah panjang sabar, manusia menyalahgunakan kemurahan-Nya.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Kesabaran dan panjang sabar Allah, yang seharusnya melembutkan dan menundukkan jiwa, justru memberikan pengaruh yang sangat berbeda terhadap orang-orang yang lalai dan berdosa.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Mereka berpikir bahwa Allah yang telah begitu sabar terhadap mereka tidak akan memperhatikan kebejatan mereka. Jika kita hidup di zaman pembalasan yang segera, pelanggaran terhadap Allah tidak akan begitu sering terjadi. Tetapi meskipun tertunda, hukuman tetap pasti.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Bahkan kesabaran Allah pun ada batasnya. Kesabaran-Nya yang panjang mungkin akan mencapai batasnya, dan kemudian Dia pasti akan menghukum.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“… kasus Miryam, Harun, Daud, dan banyak lainnya menunjukkan bahwa berbuat dosa terhadap Tuhan dalam perbuatan, perkataan, atau bahkan dalam pikiran bukanlah hal yang aman. Allah adalah pribadi yang penuh kasih dan belas kasihan yang tak terbatas, tetapi Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai ‘api menghanguskan, bahkan Allah yang cemburu’.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.2

Mari kita bertobat selama masih ada waktu. Dan renungkan pertanyaan ini: “Apakah saya sedang menyalahgunakan kesabaran Tuhan? Apakah saya menunda bertobat karena merasa belum ada akibat?” Renungkan dan jawablah itu dalam hati kita masing-masing.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: