“Jika orang memperoleh seratus anak dan hidup lama sampai mencapai umur panjang, tetapi ia tidak puas dengan kesenangan, bahkan tidak mendapat penguburan, kataku, anak gugur lebih baik dari pada orang ini.”
Pengkhotbah 6:3
Dalam budaya Ibrani kuno, banyak anak adalah tanda berkat dan kehormatan. Angka “seratus” bukan literal, tetapi hiperbola untuk menunjukkan berkat yang melimpah. Simbol kemakmuran dan keberhasilan.
Umur panjang juga dianggap berkat Tuhan. Jadi ada dua simbol berkat terbesar, yaitu keturunan dan umur panjang.
Pandangan duniawi mengatakan bahwa memiliki banyak anak dan umur panjang adalah “hidup yang sukses.” Namun, Pengkhotbah membalikkan logika ini. Sebuah “kehidupan yang sukses” secara materi namun tanpa kepuasan batin (yang bersumber dari Allah) lebih buruk daripada tidak pernah dilahirkan sama sekali.
Hidup kita saat ini secara lahiriah, bisa saja tampak diberkati, namun tetap kosong secara batin dan tidak mendapatkan kepuasan batin.
Berkat lahiriah yang paling didambakan manusia sekalipun, tidak ada artinya jika Allah tidak memberi hati yang mampu menikmatinya. Kondisi orang yang hidup dalam kelimpahan tetapi tidak puas, lebih buruk daripada nasib bayi yang lahir mati.
Ayat ini menjadi pengingat yang kuat bahwa sukacita sejati adalah anugerah Allah, dan tanpanya, hidup yang paling “berhasil” secara duniawi hanyalah “kesia-siaan dan usaha menjaring angin.”
Oleh karena itu, mari kita lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan karena hidup kita akan sia-sia jika terlepas dari Allah. Jangan sampai kita kaya dalam berkat, tetapi miskin dalam jiwa.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin