Pengkhotbah mencoba menikmati hidup—pesta, hiburan, harta, dan keberhasilan. Ia juga membangun rumah, kebun, dan mengumpulkan harta, namun pada akhirnya ia berkata bahwa semua itu hanyalah kesia-siaan.
“Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.”
Pengkhotbah 2:11
Banyak hal duniawi yang kita kejar memang bukan suatu yang salah, tetapi itu bukanlah tujuan utama hidup.
Sukacita yang hanya bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara akan cepat berlalu.
Tuhan tidak melarang kita menikmati hidup, tetapi mengingatkan kita bahwa kenikmatan bukanlah tujuan utama kita.
Akhirnya Pengkhotbah menyadari dan berkata: “… Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.” (Pengkhotbah 2:24)
Dari sini kita diingatkan bahwa makna hidup bukan ditentukan dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi semuanya itu adalah anugerah Tuhan.
Kepuasan hidup tidak berasal dari usaha manusia semata, melainkan dari kesadaran bahwa setiap berkat, kemampuan untuk bisa menikmati hasil kerja, dan sukacita hidup adalah pemberian dari tangan Allah.
Apa yang dikejar dunia sering berakhir kosong, tetapi apa yang diterima dari Tuhan memberi makna. Dan ketika kita berhenti mengandalkan diri, kita akan melihat tangan Allah bekerja dalam segala hal.
Mari kita mulai mengakui bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin.