Apakah “bermegah dalam kesengsaraan” berarti orang percaya harus menikmati penderitaan? Tentu bukan. 

Paulus tidak mengatakan bahwa penderitaan itu menyenangkan, tetapi Tuhan dapat memakai penderitaan untuk mengerjakan sesuatu yang baik dalam kehidupan kita. 

Sering kali kita berharap kehidupan bersama Tuhan akan membuat semua masalah hilang. Namun itu tidak selalu menghindarkan kita dari kesulitan. Ada saatnya kita tetap menghadapi sakit hati, kegagalan, kehilangan, tekanan, atau keadaan yang tidak kita mengerti. 

Yang berbeda adalah cara kita menghadapinya. 

Kesengsaraan tidak secara otomatis menghasilkan ketekunan. Tetapi kesengsaraan yang dihadapi bersama Tuhan dapat menghasilkan ketekunan. 

Ketika kita berjalan bersama Tuhan, kesengsaraan tidak harus menjadi sesuatu yang menghancurkan iman. Justru dalam kesulitan, kita belajar bahwa kekuatan kita terbatas dan kita semakin membutuhkan Tuhan. 

Kita belajar tetap berdoa ketika jawaban belum datang, tetap percaya ketika jalan belum jelas, dan tetap berjalan ketika keadaan terasa berat. Dari sinilah ketekunan dibentuk. 

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Tetapi belajarlah juga bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau ajarkan kepadaku melalui keadaan ini?” 

Ketekunan tidak lahir dari hidup yang selalu mudah, tetapi dari iman yang tetap bertahan ketika hidup menjadi sulit.

Kiranya ketika menghadapi kesulitan, kita tidak segera menyerah atau kehilangan pengharapan. Biarlah kita tetap memegang Tuhan, karena Dia sanggup memakai setiap pengalaman untuk membentuk kehidupan kita. 

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: