Paulus sudah menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan. Ia percaya kepada janji Tuhan bahkan ketika keadaan di sekitarnya seolah berkata bahwa janji itu mustahil terjadi. 

Namun, kisah Abraham bukan hanya tentang Abraham. Ingat pelajaran kemarin bahwa pengalaman ini juga untuk kita (Roma 4:23-24). Kita juga dipanggil untuk hidup dengan iman kepada Tuhan.

Iman kita memiliki dasar yang jauh lebih jelas. Kita percaya kepada Allah yang membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati. 

Di sinilah pusat iman kita: Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita dan telah bangkit bagi kita. 

Hidup oleh iman berarti ketika kita tidak memahami jalan Tuhan, kita tetap memilih untuk mempercayai-Nya. 

Ketika doa belum dijawab, kita tetap percaya.

Ketika keadaan belum berubah, kita tetap berharap.

Ketika kita menyadari kelemahan dan kegagalan kita, kita tetap datang kepada Kristus. 

Oleh karena itu, belajarlah hidup dengan iman yang sama—iman yang bersandar kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan diri sendiri. 

Iman yang sejati bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup menolong, tetapi tetap mempercayai-Nya ketika kita belum melihat pertolongan itu. 

Kiranya setiap hari kita semakin belajar menyerahkan hidup kepada Kristus, mempercayai janji-Nya, dan berjalan bersama-Nya, apa pun keadaan yang kita hadapi. 

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Leave a Reply

Contact Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus voluptatem accusantium doloremque laudantium totam reaperiam eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

Type what you are searching for: