Jemaat di Korintus sedang terpecah-belah. Mereka membanggakan tokoh rohani mereka dan berkata bahwa mereka adalah golongan “Paulus” dan ada yang mengatakan bahwa mereka adalah golongan “Apolos”. Namun Paulus menegaskan sesuatu yang sangat mendasar: dasar iman bukanlah manusia, melainkan Yesus Kristus.
“Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”
1 Korintus 3:11
Dalam sebuah bangunan, yang paling penting bukanlah hiasannya, tetapi fondasinya. Rumah bisa tampak indah dari luar, tetapi bila dasarnya rapuh, ia akan runtuh saat badai datang.
Fondasi sudah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Tetapi setelah fondasi itu ada, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana kita membangun di atasnya?
“Setelah fondasi diletakkan dengan kokoh, kita membutuhkan hikmat agar kita tahu bagaimana membangunnya. Ketika Musa hendak mendirikan Kemah Suci di padang gurun, ia diperingatkan, ‘Ingatlah, … “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.”’ Ibrani 8:5. Dalam hukum-Nya, Allah telah memberi kita pola tersebut. Pembentukan karakter kita haruslah sesuai dengan ‘contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.’ Hukum adalah standar kebenaran yang agung. Hukum itu menyatakan karakter Allah, dan menjadi ujian kesetiaan kita kepada pemerintahan-Nya. Dan hukum itu dinyatakan kepada kita, dalam segala keindahan dan keunggulannya, dalam kehidupan Kristus. . . .”
Counsels to Parents, Teachers, and Students 62.1
Fondasi kita adalah Yesus Kristus. Tetapi membangun di atas fondasi itu tidak boleh sembarangan. Allah telah memberikan pola, yaitu hukum-Nya, sebagai standar pembentukan karakter. Dan standar itu tidak hanya tertulis dalam loh batu, tetapi terlihat sempurna dalam kehidupan Kristus.
Jadikan hukum Tuhan sebagai pedoman hidup dan teladani kehidupan Kristus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin