Renungan Kitab Yeremia

Perenungan Yeremia 43 – Ketidaktaatan

Pasal ini adalah lanjutan pasal kemarin dan menceritakan klimaks dari ketidaktaatan umat Yehuda yang tersisa terhadap firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Yeremia.

Tuhan berjanji untuk membangun, bukan meruntuhkan; menanam, bukan mencabut (Yeremia 43:10). Dia menjanjikan perlindungan dari raja Babel asalkan mereka tetap tinggal di Yehuda. Namun, sudah diamarkan bahwa untuk pergi ke Mesir sangat dilarang, karena di sanalah mereka akan menemui kematian yang mereka takuti (Yeremia 42:15-16).

Setelah Yeremia menyampaikan pesan Tuhan agar bangsa Yehuda tidak pergi ke Mesir, mereka justru menuduh Yeremia berbohong dan memutuskan untuk tetap turun ke Mesir, membawa serta Yeremia dan Barukh dengan paksa (Yeremia 43:2-7).

Mereka berpikir bahwa Mesir adalah tempat yang aman dari kuasa Babel, tetapi mereka lupa bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman jika itu bukan kehendak Tuhan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ketakutan bisa membuat manusia menolak suara Tuhan. Keputusan mereka didorong oleh ketakutan manusiawi yang dapat dimengerti, tetapi itu adalah ketakutan yang buta terhadap janji Tuhan.

Ketakutan sering kali mendorong kita untuk mengambil jalan yang tampak aman bagi kita, tetapi justru menjauhkan kita dari perlindungan Tuhan. Ketika hati dipenuhi oleh rasa takut dan tidak percaya, bahkan kebenaran pun bisa terlihat seperti kebohongan.

Tuhan ingin umat-Nya belajar percaya, bukan karena situasi tampak aman, tetapi karena Ia sendiri yang memberi jaminan perlindungan.

Iman berkata, “Aku akan taat meskipun situasinya menakutkan, karena Aku percaya pada Janji-Janjimu.”

Terkadang, kita juga sama seperti bangsa Yehuda. Kita berdoa meminta petunjuk Tuhan, tetapi ketika jawabannya tidak sesuai harapan, kita mencari jalan lain yang terlihat lebih aman menurut pandangan kita sendiri.

Pertanyaan bagi kita adalah “Apakah aku percaya dan mau menurut pada pimpinan Tuhan, bahkan ketika jalan-Nya tampak berisiko?” Jawablah dalam hati kita masing-masing.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 1 (Bagian 6) – Jangan Keraskan Hati

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran…

7 hours ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 5) – Ketika Hati Menjauh dari Allah

Roma 1:26–27 menunjukkan kepada kita akibat yang semakin jauh ketika manusia terus-menerus menolak Allah. Paulus…

1 day ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 4) – Menukar Kebenaran dengan Kebohongan

Setelah menjelaskan bagaimana manusia menolak Allah, Paulus menunjukkan akibat yang terjadi ketika manusia memilih untuk…

2 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 3) – Ketika Manusia Menolak Allah

Paulus kemudian membawa kita kepada sebuah kenyataan yang serius. “Sebab murka Allah nyata dari sorga…

3 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 2) – Tidak Malu terhadap Injil

Paulus melanjutkan suratnya kepada jemaat di Roma dengan mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi mereka. Ia berkata,…

4 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 1) – Siapa Kita?

Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai “… hamba Kristus Yesus,…

5 days ago