Renungan Kitab Ayub

Perenungan Ayub 38 – Jawaban Allah kepada Ayub

Jika kita perhatikan pasal ini, saya tertarik dengan ayat pertama, karena pasal ini dan beberapa pasal ke depan (pasal 38-41) adalah jawaban dari Allah walaupun nanti ditengahnya dipisahkan oleh pengakuan singkat Ayub (pasal 40:3-5).

Mengenai jawaban Allah ini, saya mau mengutip dari apa yang ditulis oleh Francis D. Nichol di dalam buku SDA BC: Job 38:2. Sehubungan dengan ini, beliau mencatat:

“Tuhan tidak langsung membenarkan Ayub. Tujuan ilahi-Nya bukanlah untuk menyelesaikan suatu perdebatan, tetapi untuk menyatakan diri-Nya. Dia juga tidak menjelaskan kepada Ayub alasan penderitaannya. Pengertian yang jelas akan pribadi Tuhan lebih penting daripada mengungkap semua alasan pemeliharaan ilahi. Allah tidak menjelaskan mengapa orang jahat menjadi makmur atau mengapa orang benar menderita. Dia tidak mengatakan apa pun tentang masa depan dunia, atau kompensasi di masa depan atas kesenjangan yang ada saat ini. Tuhan hanya menyatakan diri-Nya—kebaikan-Nya, kuasa-Nya, hikmat-Nya—dan Dia bermaksud agar wahyu ini menjawab permasalahan Ayub.”

“Jawaban Tuhan memperkenalkan Ayub bukan hanya pada fakta tetapi juga pada Tuhan. Cara ini sangat efektif sehingga tanggapan Ayub adalah, ‘Sekarang mataku melihat engkau’ (pasal 42:5). Ketika Ayub melihat Tuhan, kebingungannya hilang. Hanya Tuhan yang bisa memberikan solusi seperti ini untuk permasalahannya. Ada makna yang mendalam akan cara Tuhan menjawab pertanyaan Ayub yang menantang pemikiran terdalam.”

Setiap orang pasti memiliki permasalahan dalam hidup mereka. Dalam setiap permasalahan yang ada kita cenderung ingin cepat menyelesaikan masalah tersebut. Namun melalui jawaban Tuhan kepada Ayub kita dapat belajar bahwa ada yang jauh lebih penting dari hanya sekedar penyelesaian masalah. Dan itu adalah Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah solusi sejati dari semua permasalahan kita. Entah permasalahan kita akan berakhir pada sukacita atau dukacita yang penting di sini adalah kita mengenal Tuhan kita, kita mengenal karakter kasih-Nya, kebaikan-Nya, kuasa-Nya, dan hikmat-Nya, sehingga dengan mengenal Tuhan kita dapat berjalan melalui badai kehidupan.

Kiranya renungan hari ini boleh membuat kita untuk lebih lagi mengenal pribadi Tuhan.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 6 (Bagian 3) – Manusia Lama Sudah Disalibkan

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang…

2 hours ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 2) – Dikuburkan dan Dibangkitkan Bersama Kristus

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti…

1 day ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 1) – Mati terhadap Dosa

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah…

2 days ago

Perenungan Roma 5 (Bagian 16) – Kasih Karunia Membawa kepada Hidup

“Supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran…

3 days ago

Perenungan Roma 5 (Bagian 15) – Hukum Taurat dan Kasih Karunia

“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak,…

4 days ago

Perenungan Roma 5 (Bagian 14) – Ketaatan Membawa Kehidupan

“Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula…

5 days ago