Sudah empat belas hari mereka terombang-ambing di tengah badai. Mereka hampir tidak makan karena rasa takut dan putus asa.
Dalam keadaan seperti itu, Paulus berdiri di tengah mereka dan berkata: “Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” (Kisah Para Rasul 27:34)
Lalu Paulus melakukan sesuatu yang sangat mengesankan.
“Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan.”
Kisah Para Rasul 27:35
Perhatikan waktunya.
Paulus mengucap syukur bukan setelah badai berlalu. Ia mengucap syukur ketika kapal masih dihantam ombak, ketika bahaya masih ada dan ketika daratan belum terlihat.
Rasa syukur Paulus tidak bergantung pada keadaan, tetapi lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
Alkitab juga mengajarkan kita untuk memiliki hati yang bersyukur dalam segala keadaan.
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
1 Tesalonika 5:18
Orang percaya tetap bersyukur, meski badai belum reda.
Sikap Paulus juga membawa pengaruh kepada orang lain.
“Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka pun makan juga.”
Kisah Para Rasul 27:36
Satu tindakan iman dari Paulus membangkitkan semangat seluruh penumpang kapal.
Demikian pula hidup kita. Ketika kita tetap percaya dan bersyukur di tengah badai, iman kita dapat menguatkan orang-orang di sekitar kita.
Hari ini, mungkin badai dalam hidup kita belum berlalu. Namun jangan menunggu badai reda untuk mengucap syukur.
Belajarlah bersyukur karena Tuhan tetap setia. Sebab hati yang bersyukur melihat pemeliharaan Tuhan, bahkan ketika keadaan belum berubah.
Kiranya Tuhan menolong kita memiliki hati yang tetap bersyukur dalam segala keadaan, karena kita percaya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin