Seri Harta yang Terpendam

Harta yang Terpendam (Bagian 6) – Tafsiran Manusia

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.”

Matius 13:44

Kemarin kita sudah membahas bahwa salah satu yang membuat kita tidak menyadari harta terpendam itu adalah tafsiran manusia tentang Kitab Suci.

Jadi, janganlah kita menafsirkan kitab suci menurut kehendak diri kita sendiri. Misalnya ada ayat Alkitab yang kita tidak suka karena menampar kedagingan kita. Oleh karena itu kita menafsirkan ayat itu menurut kehendak kita agar bisa cocok dengan kedagingan kita. Apa contohnya?

Contohnya kita suka makan babi, tetapi ada ayat Alkitab yang berkata bahwa babi itu haram atau najis (baca Imamat 11:7), lalu kita mulai menafsirkan bahwa itu aturan hanya untuk orang Yahudi saja. Tetapi ingat! Perbedaan antara binatang yang halal dan haram atau najis dan tidak najis itu sudah ada dari zaman Nuh (sebelum orang Yahudi ada) yang artinya itu akan tetap berlaku bagi kita.

Tetapi walau pun ada ayat-ayat tersebut, bagi orang yang tetap ingin makan makanan yang haram, maka akan ada banyak jawaban lainnya yang akan diberikan kepada mereka bahwa memang babi itu boleh dimakan bagi kita saat ini. Tetapi, pelajarilah firman Tuhan dengan penuh doa, sungguh-sungguh, dan mintalah kerendahan hati untuk menerima setiap teguran dan nasihat yang diberikan pada kita.

Jadi, marilah kita menafsirkan bukan dengan kehendak kita sendiri. Simon Petrus menasihati kita, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus 1:20-21)

Jadi penting sekali kita meminta tuntunan Roh Kudus dalam menafsirkan Kitab Suci. Selain itu, kitab Yesaya juga mencatat mengenai menafsirkan Kitab suci, yaitu di dalam Yesaya 28:10, “Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!”

Apa maksud ayat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa mendengarkan ulang penjelasan di https://youtu.be/Va52aJS0_Cs

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 9 (Bagian 1) – Hati yang Merindukan Keselamatan Orang Lain

“Sejak pertobatannya [Paulus], ia sangat rindu untuk menolong saudara-saudara sebangsanya agar memperoleh pemahaman yang jelas…

14 hours ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 14) – Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada…

2 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 13) – Jika Allah di Pihak Kita

“… Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Kristus Yesus, yang telah…

3 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 12) – Allah Menuntun Kita Menuju Kemuliaan

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka…

4 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 11) – Dibentuk Menjadi Serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa…

5 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 10) – Allah Turut Bekerja untuk Mendatangkan Kebaikan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka…

6 days ago