Renungan

Tiga Pelajaran dari Roti Sajian – Part 1

Hari ini kita akan belajar dari salah satu perabot yang ada di kemah suci, yaitu meja roti sajian. Perabot ini terletak di dalam ruang atau bilik kudus, sehingga tidak nampak dari luar. Hanya para imam yang dapat masuk ke dalam bilik kudus yang dapat melihat dan mengatur perabot itu. Meja ini terletak di sebelah utara dari bilik itu, di seberang kandil bercabang tujuh. Ukurannya panjang, lebar, dan tingginya adalah 2 x 1 x 1.5 hasta (sekitar 90 x 45 x 67.5 cm) yang dibuat dari kayu penaga yang dilapis emas murni.

Di atas meja ini diletakkan 12 roti bundar yang disusun menjadi 2 yang terdiri dari 6 roti di setiap tumpuknya. Selain itu, secara spesifik Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membuat roti ini dari tepung yang terbaik. Detail lain mengenai meja roti sajian dan roti sajian ada di dalam Keluaran 25:23-30; 37:10-16; Imamat 24:5-9.

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari hal ini. Yang pertama, Tuhan memerintahkan, “… haruslah engkau tetap meletakkan roti sajian di atas meja itu di hadapan-Ku.” (Keluaran 25:30)

Jadi, setiap hari harus ada 12 roti yang diletakkan di atas meja, tidak boleh kurang atau lebih. Apa makna rohani yang dapat kita pelajari?

Secara fisik, kita perlu makan setiap hari dengan porsi secukupnya, tidak kurang, apalagi berlebihan, dan jenis makanan yang kita konsumsi haruslah makanan yang terbaik, yaitu makanan yang dapat mempertahankan kesehatan tubuh kita.

Secara rohani, kita juga perlu makanan yang sehat, yaitu “memakan” firman Tuhan setiap hari. Artinya kita harus membaca firman Tuhan setiap hari seperti kata pemazmur, “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:2)

Jadi, coba kita renungkan secara pribadi, sudahkah kita memakan makanan jasmani dan rohani yang sehat dan sesuai kehendak Tuhan? Ataukah kita lebih memilih “memakan” hal-hal duniawi yang tidak membawa kesehatan bagi kerohanian kita? Jangan lupa bahwa apa yang kita makan tidak dari mulut saja, tetapi kita juga “makan” dari apa yang kita lihat dan dengar. Jadi pastikan apa yang kita lihat dan dengar juga membawa kerohanian kita lebih dekat pada Tuhan.

Kita akan melanjutkan pelajaran kedua besok hari. Jangan lewatkan!

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 6) – Tuhan Tidak Pernah Lupa Janji-Nya

Setelah tinggal selama tiga bulan di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menuju…

2 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 5) – Jadilah Berkat di Mana Pun Tuhan Menempatkanmu

Selama tiga hari pertama di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya diterima dengan ramah oleh Publius,…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 4) – Jangan Hidup Berdasarkan Penilaian Manusia

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, penduduk Malta segera mengambil kesimpulan. Mereka berkata: "Orang ini…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 3) – Jangan Membiarkan Racun Tetap Melekat

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, semua orang yang melihatnya langsung menyimpulkan bahwa ia pasti…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 2) – Tetap Melayani di Tengah Tantangan

Setelah tiba di Pulau Malta, Paulus bukan hanya berdiam diri menikmati kehangatan api yang telah…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 1) – Kasih yang Dinyatakan Melalui Orang yang Tidak Kita Duga

Setelah selamat dari badai yang dahsyat, Paulus dan seluruh penumpang kapal akhirnya tiba di sebuah…

5 days ago