Renungan Kitab Yesaya

Perenungan Yesaya 50 – Perhatikan Ucapan Kita

Salah satu ayat terkenal di pasal ini adalah ayat 4. Mari kita sama-sama baca.

Ketika kita membaca ayat ini, apa yang kita pikirkan?

Secara pribadi, saya diingatkan dan dinasihati agar selalu menggunakan lidah saya dengan bijaksana. Selain itu saya juga harus menjadi pendengar yang baik, khususnya dalam mendengarkan suara Tuhan atau kehendak Tuhan dalam hidup saya.

Pada renungan hari ini, saya ingin fokus kepada lidah. Kami dari Grow ministry sudah pernah membahas seri “Pengenal Karaktermu” yang bisa dibaca di beberapa media sosial kami ataupun website kami dengan mengetik kata kunci judul seri tersebut.

Seri tersebut terdiri dari 20 renungan yang mencakup pembahasan mengenai kejujuran, kebohongan, teguran, gosip, fitnah, perkataan yang membangun, membicarakan kesalahan orang lain, bercanda, dll.

Sekarang, mari kita mulai pembahasannya. Kemarin kita sudah belajar bahwa kita harus menjadi terang dunia, bukan? Jika kita adalah terang dunia, maka kita harus bisa menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita.

Lalu di mana kita belajar berkata-kata? Ada satu kutipan dari pena inspirasi yang menarik perhatian saya. Berbicara mengenai perkataan, tentu tak luput dari bahasa. Bahasa adalah sebuah ekspresi yang ingin kita sampaikan atau komunikasikan ke orang lain. Di mana sekolah terbaiknya?

“Sekolah terbaik untuk pembelajaran bahasa adalah rumah.”

Adventist Home 435.1

Jadi, marilah kita menjaga perkataan kita di mana pun kita berada, termasuk di rumah. Mengapa? Karena di rumahlah salah satu tempat pembelajaran terbaik. Dan ketika kita berada di rumah atau dalam sebuah keluarga (ayah, ibu, anak), maka perhatikan apa yang kita katakan.

Oleh karena itu, berdoalah demikian, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3)

Mintalah agar Tuhan mengawasi dan menjaga pintu bibir kita agar semua yang kita ucapkan boleh mencerminkan karakter Kristus.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 9 (Bagian 6) – Kesabaran dan Kemurahan Allah

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda…

14 hours ago

Perenungan Roma 9 (Bagian 5) – Siapakah Kita untuk Membantah Allah?

“Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya:…

2 days ago

Perenungan Roma 9 (Bagian 4) – Apakah Allah Tidak Adil?

“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati…

3 days ago

Perenungan Roma 9 (Bagian 3) – Rencana Allah dan Pilihan-Nya

Pada bagian sebelumnya Paulus menjelaskan bahwa keturunan jasmani saja tidak otomatis menjadikan seseorang ahli waris…

4 days ago

Perenungan Roma 9 (Bagian 2) – Janji Allah Tidak Pernah Gagal

“Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel…

5 days ago

Perenungan Roma 9 (Bagian 1) – Hati yang Merindukan Keselamatan Orang Lain

“Sejak pertobatannya [Paulus], ia sangat rindu untuk menolong saudara-saudara sebangsanya agar memperoleh pemahaman yang jelas…

6 days ago