Renungan Kitab Pengkhotbah

Perenungan Pengkhotbah 8 – Bahaya yang Sering Tidak Kita Sadari

Ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari: ketika tidak ada konsekuensi dosa secara langsung, kita merasa aman untuk berbuat dosa. Kesabaran Allah yang panjang mendorong sebagian orang untuk berbuat lalai.

Kita berpikir, “Tidak apa-apa… Tuhan tidak menghukum saya.” Sehingga kita menunda bertobat karena merasa semuanya masih berjalan dengan baik.

Penundaan hukuman bukan berarti Tuhan menyetujui dosa. Diamnya Tuhan bukan tanda Ia tidak peduli.

Kesabaran Allah seharusnya membawa kita pada pertobatan, bukan keberanian untuk terus melanggar. Tetapi ketika hukuman tertunda, manusia sering salah menafsirkan kasih sebagai kelemahan.

“Dalam hubungan-Nya dengan umat manusia,Allah panjang sabar terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat. Ia menggunakan perantara-perantara yang telah ditetapkan-Nya untuk memanggil manusia supaya setia kepada-Nya, dan menawarkan pengampunan penuh jika mereka mau bertobat. Tetapi karena Allah panjang sabar, manusia menyalahgunakan kemurahan-Nya.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Kesabaran dan panjang sabar Allah, yang seharusnya melembutkan dan menundukkan jiwa, justru memberikan pengaruh yang sangat berbeda terhadap orang-orang yang lalai dan berdosa.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Mereka berpikir bahwa Allah yang telah begitu sabar terhadap mereka tidak akan memperhatikan kebejatan mereka. Jika kita hidup di zaman pembalasan yang segera, pelanggaran terhadap Allah tidak akan begitu sering terjadi. Tetapi meskipun tertunda, hukuman tetap pasti.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“Bahkan kesabaran Allah pun ada batasnya. Kesabaran-Nya yang panjang mungkin akan mencapai batasnya, dan kemudian Dia pasti akan menghukum.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.1

“… kasus Miryam, Harun, Daud, dan banyak lainnya menunjukkan bahwa berbuat dosa terhadap Tuhan dalam perbuatan, perkataan, atau bahkan dalam pikiran bukanlah hal yang aman. Allah adalah pribadi yang penuh kasih dan belas kasihan yang tak terbatas, tetapi Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai ‘api menghanguskan, bahkan Allah yang cemburu’.”

The SDA Bible Commentary, Vol. 3, 1166.2

Mari kita bertobat selama masih ada waktu. Dan renungkan pertanyaan ini: “Apakah saya sedang menyalahgunakan kesabaran Tuhan? Apakah saya menunda bertobat karena merasa belum ada akibat?” Renungkan dan jawablah itu dalam hati kita masing-masing.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 19 (Bagian 2) – Hubungan dengan Kristus

Setelah menceritakan pekerjaan Roh Kudus di Efesus, Alkitab mencatat berbagai mukjizat yang Tuhan lakukan melalui…

10 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 19 (Bagian 1) – Kuasa yang Mengubahkan Hidup

Ketika tiba di Efesus, Paulus bertemu dengan beberapa murid dan mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik:…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 4) – Hati yang Mau Diajar

Di bagian akhir Kisah Para Rasul 18, Alkitab memperkenalkan seorang bernama Apolos. Ia adalah orang…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 3) – Ketika Tuhan Menggagalkan Rencana Manusia

Ketika pelayanan Paulus di Korintus semakin berkembang, orang-orang Yahudi yang menolak Injil mulai melawan Paulus.…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 2) – Jangan Diam

Di Korintus, pelayanan Paulus tidak selalu berjalan mudah. Ketika ia memberitakan Injil, sebagian orang mulai…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 1) – Menjadi Saksi

Setelah meninggalkan Atena, Paulus tiba di Korintus. Di sana ia bertemu dengan sepasang suami istri,…

5 days ago