Renungan Kitab Pengkhotbah

Perenungan Pengkhotbah 5 – Sikap di Rumah Ibadah

Masih ingat pembahasan kemarin? Ini lanjutan mengenai sikap dalam ibadah. Renungan hari ini panjang, jadi sediakan waktu untuk membacanya.

Sehubungan dengan ini, pena inspirasi menjelaskan dengan sangat gamblang mengenai pentingnya menjaga sopan santun dan percakapan kita di rumah ibadah. Mari kita baca penjelasannya.

“Ketika para penyembah memasuki tempat ibadah, hendaknya mereka melakukannya dengan sopan santun, berjalan dengan tenang menuju tempat duduk mereka…. Percakapan biasa, berbisik-bisik, dan tertawa tidak diperbolehkan di rumah ibadah, baik sebelum maupun sesudah ibadah. Kesalehan yang sungguh-sungguh dan aktif hendaknya menjadi ciri khas para jamaah.”

Testimonies for the Church Vol. 5, 492.1

Ada 5 kata yang kita akan bahas hari ini, yaitu sopan santun, percakapan biasa, berbisik-bisik, tertawa, dan aktif.

Sikap kita harus “sopan” ketika masuk ke tempat ibadah. Tenang menuju tempat duduk bukan berlari-lari atau yang lainnya.

Contohnya adalah ketika kita beribadah pada hari Sabat, maka “percakapan biasa” ini merujuk pada pembicaraan sehari-hari yang tidak rohani seperti membicarakan pekerjaan, dan lain-lain.

“Berbisik-bisik” atau ngobrol ketika ibadah bisa mengganggu fokus di ibadah.

“Tertawa” yang dimaksudkan adalah tertawa terbahak-bahak. Ingatlah bahwa ibadah bukanlah hiburan dan ketika berkhotbah, biarlah pembawa firman juga bukan membawakan khotbah yang lucu, tetapi khotbah yang membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Sehubungan tertawa, teringat sebuah kutipan yang menyatakan “Akan tiba waktunya ketika, gantinya para gembala memberi makan domba-domba, gereja akan memiliki badut yang menghibur kambing-kambing.” (Charles H. Spurgeon)

Kata “aktif” artinya kita harus menjadi umat yang tidak pasif dalam ibadah. Contohnya, ketika menyanyi, kita juga sungguh-sungguh menyanyi bukan hanya asal buka mulut saja atau bahkan tidak menyanyi. Waktu berdoa, walaupun orang lain yang memimpin doa, kita turut berdoa dalam hati. Ketika kita mendengar khotbah, kita juga harus aktif berpikir, mengimani, merespons, dll.

Dan terkadang sebelum mulai ibadah, ada waktu menunggu. Apa yang seharusnya kita lakukan? Pena inspirasi mencatat demikian:

“Jika sebagian orang harus menunggu beberapa menit sebelum kebaktian dimulai, biarlah mereka mempertahankan roh pengabdian yang sejati melalui perenungan hening, menjaga hati tetap terangkat kepada Tuhan dalam doa agar kebaktian tersebut bermanfaat khusus bagi hati mereka sendiri dan mengarah pada keyakinan dan pertobatan jiwa-jiwa lain. Mereka harus ingat bahwa utusan surgawi ada di rumah itu.”

Testimonies for the Church Vol. 5, 492.2

Jadi, mari kita bersikap sopan ketika ibadah dan bagi para pembicara atau pembawa firman, ingatlah bahwa ibadah bukanlah hiburan.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 8 (Bagian 12) – Allah Menuntun Kita Menuju Kemuliaan

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka…

14 hours ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 11) – Dibentuk Menjadi Serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa…

2 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 10) – Allah Turut Bekerja untuk Mendatangkan Kebaikan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka…

3 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 9) – Roh Kudus Menolong dalam Kelemahan Kita

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus…

4 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 8) – Menantikan Penebusan dengan Tekun

“Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga…

5 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 7) – Dua Pengkhotbah

Renungan hari ini panjang. Pastikan Anda menyediakan waktu khusus untuk membaca sedikit lebih lama dari…

6 days ago