Renungan Kitab 2 Korintus

Perenungan 2 Korintus 7 (Bagian 1) – Dukacita menurut Kehendak Allah

Pernahkah kita merasa sedih atau menyesal setelah melakukan kesalahan? Tidak semua kesedihan itu sama. Ada kesedihan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, tetapi ada juga yang justru menjauhkan kita dari-Nya.

Pasal ini menyoroti dua jenis dukacita: dukacita menurut kehendak Allah dan dukacita dunia.

Keduanya mungkin terasa mirip di awal, tetapi menghasilkan akhir yang sangat berbeda:

  • Dukacita Allah → pertobatan & keselamatan
  • Dukacita dunia → kematian

Apa perbedaan keduanya? Hari ini kita akan membahas dukacita menurut kehendak Allah dan besok kita akan membahas dukacita dunia.

Dukacita menurut Kehendak Allah
Fokusnya: berubah

  • Menyadari dosa dengan jujur
  • Hati hancur karena berbuat dosa
  • Mendorong untuk bertobat
  • Ada langkah nyata meninggalkan dosa
  • Akhirnya: damai & keselamatan

Dukacita menurut kehendak Allah adalah kesedihan yang membawa seseorang menyadari dosanya dengan jujur dan mendorongnya untuk berubah. Bukan hanya merasa bersalah, tapi berbalik dari dosa kepada Allah.

Contohnya adalah Daud yang menyesal sungguh-sungguh dan bertobat.

“Doa Daud setelah kejatuhannya menggambarkan keadaan duka sejati atas dosa itu. Pertobatan yang jujur dan dengan hati yang tulus dan dalam. Padanya tidak ada usaha meringankan kesalahannya; tiada ada keinginan melarikan diri dari pehukuman yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang diperbuatnya, ia melihat pencemaran jiwanya, ia benci terhadap dosanya. Ia berdoa bukan hanya untuk pengampunan, tetapi juga untuk kemurnian hati.”

Steps to Christ 24.3

Inilah contoh dukacita yang menurut kehendak Allah karena dukacita seperti inilah yang akan membawa pada keselamatan. Hari ini, mari kita memeriksa hati kita: apakah kita hanya menyesal, atau sungguh-sungguh bertobat?

“Tidak ada keselamatan tanpa pertobatan.”

Selected Messages Book 1 365.2

Kiranya renungan ini boleh memberkati kita semua.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Titus 1 (Bagian 1) – Janji Allah Tidak Pernah Gagal

“dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah…

18 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 8) – Injil Tidak Dapat Dipenjarakan

Kitab Kisah Para Rasul ditutup dengan sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi penuh makna. Paulus memang…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 7) – Tetap Setia Menyampaikan Kebenaran

Sesampainya di Roma, Paulus tidak membuang waktu. Meskipun masih berstatus sebagai tahanan rumah, ia segera…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 6) – Tuhan Tidak Pernah Lupa Janji-Nya

Setelah tinggal selama tiga bulan di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menuju…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 5) – Jadilah Berkat di Mana Pun Tuhan Menempatkanmu

Selama tiga hari pertama di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya diterima dengan ramah oleh Publius,…

5 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 4) – Jangan Hidup Berdasarkan Penilaian Manusia

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, penduduk Malta segera mengambil kesimpulan. Mereka berkata: "Orang ini…

6 days ago