Renungan Kitab 1 Korintus

Perenungan 1 Korintus 7 – Pernikahan Tanpa Keegoisan

Kasih tidak berjalan satu arah, melainkan saling memberi dan saling memperhatikan. Pernikahan bukan hanya tentang menerima perhatian, tetapi tentang memberikan diri dengan tulus.

Kasih sejati tidak egois. Ia tidak berkata, “Apa yang aku dapat?” tetapi “Apa yang bisa aku berikan?”

Ketika suami dan istri sama-sama berusaha membahagiakan pasangannya, rumah tangga menjadi tempat yang penuh damai.

Namun, kasih dalam pernikahan tidak boleh berhenti hanya pada lingkup pasangan itu sendiri. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kasih yang benar bukanlah kasih yang tertutup dan berpusat pada diri, melainkan kasih yang tetap terbuka dan tidak dikuasai oleh keegoisan.

“Merupakan hak istimewa dan kewajiban suci umat Kristen untuk saling membahagiakan dalam kehidupan pernikahan mereka; tetapi ada bahaya yang nyata ketika diri sendiri menjadi pusat segalanya, ketika seluruh kekayaan kasih sayang dicurahkan hanya kepada pasangan, dan terlalu puas dengan kehidupan seperti itu. Semua ini berbau keegoisan.”

In Heavenly Places 207.3

“Daripada menutup kasih dan simpati hanya untuk diri mereka sendiri, mereka seharusnya memanfaatkan setiap kesempatan untuk membawa kebaikan bagi orang lain, membagikan limpahan kasih sayang dalam kasih yang murni dan suci kepada jiwa-jiwa yang di mata Tuhan sama berharganya dengan diri mereka sendiri, yang telah ditebus oleh pengorbanan tak terbatas dari Anak-Nya yang tunggal.”

In Heavenly Places 207.4

“Kata-kata yang baik, tatapan penuh simpati, ungkapan penghargaan, bagi banyak orang yang sedang berjuang dan merasa kesepian, akan menjadi seperti secangkir air sejuk bagi jiwa yang haus. Sepatah kata simpati, satu tindakan kebaikan, dapat meringankan beban yang sedang menekan berat di atas pundak seseorang.”

In Heavenly Places 207.4

Jadi marilah kita membangun rumah tangga yang saling memberi dan tidak egois, serta membiarkan kasih Kristus mengalir bukan hanya di dalam rumah kita, tetapi juga kepada setiap jiwa yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 1 (Bagian 6) – Jangan Keraskan Hati

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran…

10 hours ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 5) – Ketika Hati Menjauh dari Allah

Roma 1:26–27 menunjukkan kepada kita akibat yang semakin jauh ketika manusia terus-menerus menolak Allah. Paulus…

1 day ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 4) – Menukar Kebenaran dengan Kebohongan

Setelah menjelaskan bagaimana manusia menolak Allah, Paulus menunjukkan akibat yang terjadi ketika manusia memilih untuk…

2 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 3) – Ketika Manusia Menolak Allah

Paulus kemudian membawa kita kepada sebuah kenyataan yang serius. “Sebab murka Allah nyata dari sorga…

3 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 2) – Tidak Malu terhadap Injil

Paulus melanjutkan suratnya kepada jemaat di Roma dengan mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi mereka. Ia berkata,…

4 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 1) – Siapa Kita?

Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai “… hamba Kristus Yesus,…

5 days ago