Renungan

Kebutuhan Terbesar Dunia

Shalom, selamat Sabat!

Apakah kebutuhan terbesar dunia itu?

Apakah harta, kekuasaan, pasangan, atau lain sebagainya?

Ada sebuah ayat yang menarik untuk kita simak, yaitu “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.” (Yesaya 5:20)

Masalah terbesar yang mengancam manusia bukanlah soal krisis ekonomi, masalah uang atau bencana alam yang parah, tetapi hal yang paling berbahaya adalah ketika manusia mengalami “degradasi moral” dan akhirnya menjadi “tumpul secara moral.”

Mengapa? Karena pada saat seperti itu, kesalahan dan dosa menjadi “tidak jelas” dan orang akan sukar melihat dan membedakan mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, bahkan dengan mudah memutar balikkannya.

Dalam kondisi seperti ini, apa kebutuhan dunia yang terbesar?

Apakah orang-orang hebat dan cerdas dalam berpikir?

Di dalam buku Education hlm. 57 dikatakan bahwa “Kebutuhan terbesar dunia ini adalah kebutuhan akan manusia—manusia yang tidak dapat diperjualbelikan, manusia yang dalam sanubarinya setia dan jujur, manusia yang tidak segan menyebut dosa sebagai dosa, manusia yang angan-angan hatinya setia kepada tugas seperti jarum menunjuk ke kutub, manusia yang mau berdiri demi kebenaran walau langit runtuh sekalipun.”

Manusia jenis yang “tidak dapat diperjualbelikan” di dunia ini sangat “terlalu sedikit” dan bisa kita sebut “manusia langka.”

Lihatlah kegagalan Bileam dan Yudas, “dua manusia yang dapat dibayar dengan uang” yang kehidupannya berakhir tragis. Tapi belajarlah dari Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya yang tidak peduli resiko dan ancaman kematian sekalipun. Mereka tetap pada iman dan prinsip kebenaran, dan Tuhan akhirnya melindungi dan memberkati mereka.

Bagaimana dengan kita? Maukah kita menjadi manusia yang “tidak dapat diperjualbelikan?”

Jika ya, marilah kita berdoa meminta bantuan dari Tuhan untuk merubah tabiat kita menjadi sesuai dengan karakter-Nya.

Biarlah renungan pada hari Sabat yang diberkati ini dapat mengingatkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang dibutuhkan oleh dunia saat ini, yaitu pribadi-pribadi yang tidak dapat diperjualbelikan baik oleh harta, kekuasaan, pasangan, dan lain-lainnya. Marilah kita tetap berdiri teguh dalam kebenaran sekalipun langit akan runtuh.

Selamat Sabat dan Tuhan memberkati kita semua.

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 1 (Bagian 2) – Tidak Malu terhadap Injil

Paulus melanjutkan suratnya kepada jemaat di Roma dengan mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi mereka. Ia berkata,…

1 hour ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 1) – Siapa Kita?

Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai “… hamba Kristus Yesus,…

1 day ago

Perenungan Titus 3 (Bagian 7) – Berbuahlah

Pada bagian sebelumnya, kita diingatkan untuk tidak menghabiskan waktu dalam pertengkaran dan perdebatan yang sia-sia.…

2 days ago

Perenungan Titus 3 (Bagian 6) – Perdebatan

“Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan serta pertengkaran tentang hukum…

3 days ago

Perenungan Titus 3 (Bagian 5) – Iman yang Menghasilkan Perbuatan Baik

Paulus menunjukkan hasil yang seharusnya terlihat dari kehidupan yang telah menerima kasih karunia itu, yaitu…

4 days ago

Perenungan Titus 3 (Bagian 4) – Awal dari Kehidupan Kekal

Keselamatan adalah pemberian kasih karunia. Namun, karya Allah tidak berhenti pada pengampunan. Allah juga memperbarui…

5 days ago