Seri Sebuah Jalan

Sebuah Jalan (Bagian 5) – Ciri-Ciri Orang di Jalan yang Sempit dan Lebar (Part 2)

Kemarin kita sudah membahas ciri orang yang berjalan di jalan yang sempit, hari ini mari kita lihat bagaimana dengan orang yang berjalan di jalan yang lebar?

“Di jalan yang luas atau lebar, semua memikirkan diri sendiri, pakaian mereka, dan kesenangan di tengah jalan. Mereka bebas menikmati riang gembira, dan tidak memikirkan akhir perjalanan mereka, kebinasaan yang pasti ada pada ujung jalan itu.”

Amanat Kepada Orang Muda pasal 33, hlm. 151, par. 2

Ada sesuatu yang aneh terjadi. Apa itu? “Mereka berada pada jalan yang luas, namun mereka mengaku dari jumlah yang sedang berjalan pada jalan yang sempit itu. Mereka yang berada di sekitar mereka berkata, ‘Tidak ada perbedaan di antara kita. Semua kita sama saja; kita bicara, berpakaian, dan berbuat sama saja.’ (Amanat Kepada Orang Muda pasal 33, hlm. 151, par. 2)

Jadi, ciri-ciri orang yang berjalan di jalan yang lebar adalah:

  • Memikirkan diri sendiri, pakaian, dan kesenangan mereka.
  • Bebas menikmati ruang gembira.
  • Tidak memikirkan akhir perjalan mereka, yaitu kebinasaan.
  • Mengaku berjalan di jalan yang sempit.
  • Orang sekitar akan merasa tidak ada yang berbeda dengan dunia dari cara bicara, berpakaian dan perbuatan.

Dan apakah kalian tahu? Orang yang berjalan di jalan yang lebar itu “setiap hari mereka makin mendekati kebinasaan; namun mereka berdesak-desakan dengan gila-gilaan lebih cepat dan makin cepat.” (Amanat Kepada Orang Muda pasal 33, hlm. 151, par. 2)

Sangat mengerikan, bukan? Banyak orang yang lebih suka jalan di jalan yang lebar. Itulah sebabnya Tuhan berfirman, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.” (Matius 7:13)

Tuhan sudah tahu bahwa akan banyak orang yang suka dengan jalan yang luas, sehingga Ia menasihati kita untuk masuk melalui pintu yang sesak dan berjalan di jalan yang sempit.

Pertanyaan bagi kita, “Apa yang menjadi kisah akhir perjalanan kita? Apakah hidup yang kekal ataukah kebinasaan? Mana yang kita akan pilih?”

Ingatlah! Tuhan sudah menasihati kita untuk melalui jalan yang sempit. Biarlah kita sama-sama berdoa agar kita memiliki kerinduan untuk berjalan di jalan yang benar, di jalan yang membawa kita kepada kehidupan kekal.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 3) – Ketika Tuhan Menggagalkan Rencana Manusia

Ketika pelayanan Paulus di Korintus semakin berkembang, orang-orang Yahudi yang menolak Injil mulai melawan Paulus.…

11 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 2) – Jangan Diam

Di Korintus, pelayanan Paulus tidak selalu berjalan mudah. Ketika ia memberitakan Injil, sebagian orang mulai…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 1) – Menjadi Saksi

Setelah meninggalkan Atena, Paulus tiba di Korintus. Di sana ia bertemu dengan sepasang suami istri,…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 4) – Tetap Setia Menyampaikan Kebenaran

Setelah Paulus menjelaskan tentang Allah yang benar di Atena, ia mulai berbicara tentang pertobatan dan…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 3) – Religius Belum Tentu Mengenal Tuhan

Setelah meninggalkan Berea, Paulus tiba di Atena, sebuah kota yang penuh dengan filsafat, budaya, dan…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 2) – Kebenaran Tidak Dapat Dihentikan

Setelah banyak orang di Berea menerima firman Tuhan, kabar itu sampai kepada orang-orang Yahudi di…

5 days ago