Renungan Kitab Pengkhotbah

Perenungan Pengkhotbah 3 – Ada Masanya

Pasal ini diawali dengan kalimat “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1)

Kata “waktu” (Ibrani: זְמָן – zĕmān) dan “masa” (עֵת – ‘ēt) menunjukkan waktu yang ditetapkan, bukan kebetulan.

Jadi, hidup berjalan dalam masa-masa yang ditetapkan Allah. Ada waktu untuk lahir dan mati, menangis dan tertawa, merobohkan dan membangun. Dan dari semuanya itu, tidak satu pun yang kebetulan, tetapi semuanya berada dalam kendali Tuhan.

Sering kali kita ingin hidup hanya di masa-masa yang menyenangkan. Kita ingin tertawa terus, berhasil terus, dan aman terus. Namun firman Tuhan dengan jujur menyatakan bahwa masa sulit pun adalah bagian dari rencana-Nya. Kesedihan, kehilangan, dan penantian bukan tanda Tuhan meninggalkan kita, melainkan bagian dari proses pembentukan iman.

Ayat 11 mengatakan, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Indah di sini tidak selalu berarti mudah atau nyaman, tetapi tepat dan penuh makna.

“Akan tetapi seperti bintang-bintang di angkasa luas lepas menuruti peredarannya masing-masing, maksud-maksud Allah tidak mengenal tergesa-gesa dan juga penundaan.”

The Desire of Ages 32.1

Jadi, apa yang sekarang terasa berat, suatu hari akan kita pahami sebagai bagian penting dari karya Allah dalam hidup kita. Kita ini terbatas, itulah sebabnya kita tidak dapat menyelami seluruh rencana Allah dari awal sampai akhir. Karena itu, sikap terbaik bukanlah mengeluh, melainkan percaya kepada Tuhan.

Jika hari ini adalah masa menangis, percayalah bahwa Tuhan sedang menyiapkan masa tertawa. Jika hari ini adalah waktu menunggu, ingatlah bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang indah, tepat pada waktunya.

Jangan putus asa di masa sulit karena waktu Tuhan selalu tepat dan tidak pernah terlambat.

Belajarlah berserah kepada-Nya karena Allah yang mengendalikan waktu, dan kita berada dalam tangan-Nya.

Kiranya renungan ini boleh menguatkan kita semua.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 1 (Bagian 6) – Jangan Keraskan Hati

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran…

6 hours ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 5) – Ketika Hati Menjauh dari Allah

Roma 1:26–27 menunjukkan kepada kita akibat yang semakin jauh ketika manusia terus-menerus menolak Allah. Paulus…

1 day ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 4) – Menukar Kebenaran dengan Kebohongan

Setelah menjelaskan bagaimana manusia menolak Allah, Paulus menunjukkan akibat yang terjadi ketika manusia memilih untuk…

2 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 3) – Ketika Manusia Menolak Allah

Paulus kemudian membawa kita kepada sebuah kenyataan yang serius. “Sebab murka Allah nyata dari sorga…

3 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 2) – Tidak Malu terhadap Injil

Paulus melanjutkan suratnya kepada jemaat di Roma dengan mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi mereka. Ia berkata,…

4 days ago

Perenungan Roma 1 (Bagian 1) – Siapa Kita?

Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai “… hamba Kristus Yesus,…

5 days ago